Selasa, 12 Januari 2016



ANALISA HUBUNGAN JUMLAH UANG BEREDAR  DAN INFLASI DI INDONESIA
( SUATU PENERAPAN MODEL DINAMIS )

PENDAHULUAN
     I.LATAR BELAKANG

Beberapa definisi  tentang inflasi yang dikemukakan oleh para fakar ekonomi makro walaupun dirumuskan dengan kata yang berbeda-beda. Pada prinsipnya terkandung makna yang sama , inflasi adalah suatu keadaan dimana terdapat kecendrungan harga- harga umum untuk naik secara terus-menerus .
Ada indikasi dari beberapa pemerhati masalah ekonomi di Indonesia, bahwa ada semacam consensus dikalangan pembuat kebijakan untuk penerima tingkat inflasi yang dianggap ringan , artinya tidak berbahaya terhadap proses pembangunan ekonomi yang sedang berlangsung . menurut Arieft ( 2000: 4/5) bahwa tingkat inflasi sebesar 5 – 10 persen pertahun merupakan tingkat inflasi yang dapat merangsang kegiatan infestasi sehinga terjadi pertumbuhan ekonomi yang relative tanpa menimbulkan disequilibrium yang dapat mengganggu kewajaran proses perkembangan ekonomi . oleh karena itu pemerintah Indonesia terus berupaya untuk memelihara agar laju inflasi setiap tahun tidak lebih dari satu .
Di Indonesia fluktuasi sangat responsip terhadap kegiatan ekonomi tertentu yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun swasta. Proses terjadinya inflasi tersebut bisa diamati dari dua sisi yaitu dari sisi permintaan dan dari sisi penawaran .
Inflasi yang timbul karena masyarakat meminta barang lebih banyak dari yang bisa disediakan  oleh perekonomian , atau juga dengan bertambahnya pengeluaran pemerintah yang dibiayai dengan pencetakan uang baru disebut demand pull inflation ( sisi permintaan )sedangkan inflasi yang ditimbulkan karena kenaikan biaya produksi , misalnya akibat kenaikan harga bahan baku industry disebut inflasi tekanan biaya atau cost push inflation ( sisi penawaran ) .
Dalam bentuknya yang murni ada dua jenis inflasi itu jarang sekali ditemui dalam praktek . pada umumnya inflasi yang terjadi diberbagai Negara di dunia adalah  kombinasi kedua jenis inflasi tersebut dan seringkali keduanya saling memperkuat ( Boediono,1990: 101)namun demikian dominasi pengaruh yang satu terhadap yang lain dapat diamati dari proses perubahan output nasional sebagai akibat kenaikan harga inflasi tersebut . bila kenaikan harga yang terjadi disertai dengan penurunan output nasional , maka inflasi tersebut cendrung didominasi oleh adanya tekanan biaya. Sebaliknya bila kenaikan harga tersebut dibarengi dengan kenaikan output nasional, maka inflasi cendrung didominasi oleh inflasi dorongan permintaan.
Dalam tulisan ini analisis lebih ditekankan pada inflasi dari sisi permintaan, yaitu dengan menggunakan proxy rasio jumlah uang yang beredar terhadap PDB (M2) sebagai variable penentu utama tingkat inflasi , selain itu pajak sebagai salah satu perangkat kebijakan fiscal yang mempunyai sifat deflator diduga akan dapat mengurangi lonjakan-lonjakan perilaku inflasi di Indonesia melalui pengurangan pada lonjakan fluktuasi permintaan agregatif .

II. ALAT ANALISIS TEORI

            Untuk melihat hubungan antara jumlah uang beredar (JUB) dengan kenaikan harga ( inflasi ) didekati dengan persaman pertukaran dari fisher . analisis fisher dimulai dengan mengetengahkan identitas :
           
            M.V = P.T

Dimana :
            M = adalah jumlah uang beredar dalam perekonomian .
   V =  merupakan rata-rata waktu satu unit uang berpindah tangan untuk suatu periode
          Waktu tertentu
   T =  merupakan volume transaksi ,
   P = tingkat harga.
Menurut fisher orang bersedia memegang uang karena kegunaannya dalam proses transaksi dan dipengaruhi oleh factor kelembagaan, factor-faktor kelembagaan pada umumnya hanya berubah secara sporadic dan akan berpengaruh terhadap V , sehingga dalam jangka pendek V dianggap tetap. Volume transaksi ditentukan oleh tingkat pendapatan masyarakat  dan perekonomian berada dalam kesempatan kerja penuh, sehingga T dapat dianggap konstan , kedua asumsi ini menyebabkan identitas fisher dapat dirubah menjadi suatu teori yaitu :
                
                Md = (1 /Vt) P.T   (  2 )

Persamaan (1) menunjukkan dalam jangka pendek permintaan uang merupakan bagian yang tetap dari nilai transaksi , ( P.T) yang menunjukkan suatu proporsi constant dari tingkat pendapatan nasional nominal . oleh karena itu permintaan uang masyarakat ditentukan oleh tingkat pendapatan masyarakat.
            Selanjutnya penawaran uang (MS) di tentukan secara eksogen dan dalam keadaan keseimbangan sama dengan permintaan uang ( Md) , sehingga akan terjadi hubungan sebagai berikut :
            Ms = Md dimana Md = (1/Vt) P.T, sehingga
            Ms = (1/vt) P.T 
Jadi dengan perekonomian dalam keadaan tingkat kesempatan kerja penuh dan dengan asumsi bahwa Vt dan T adalah konstan dalam jangka pendek sementara M dianggap ditentukan secara eksogen oleh otoritas moneter maka tingkat harga menjadi variable  dependen dari persamaan diatas, sejalan dengan itu maka perubahan tingkat harga uang ( inflasi ) tentunya akan berasal dari perubahan jumlah uang yang beredar .persamaan ini dapat ditulis menjadi :
           
            dMs = ( 1/Vt) dP.T
            dMs = (1/Vt).Dp

PARTIAL ADJUSMENT MODEL (PAM)
            Model yang digunakan untuk mengestimasi inflasi di Indonesia dapat ditulis sebagai berikut :
Pt* = f (Mt ) atau
Pt* =a 0 + a 1 Mt……………………….(1)
            Persamaan 1 dapat dirubah kedalam bentuk persamaan logaritma natural :
Ln Pt* = a 0 + a 1 Ln Mt……………..(2)
Dalam PAM diasumsikan bahwa pelaku ekonomi selalu menyesuaikan tingkat harga umum ( inflasi ) pada suatu periode dengan periode sebelumnya , sehingga :
Ln Pt – Ln Pt 1=
K( Ln Pt* -Ln Pt 1) ……………………..(3)
            Persamaan (2) disubstitusikan kedalam persamaan (3) didapat hasil sebagai berikut :
Ln Pt – Ln Pt1 = k( a 0+a 1 Ln Mt)
Ln Pt = k a0 + k a 1Ln Mt+ (1-k) Ln Pt1
Dimana :
Ln Pt  = tingkat harga umum ( inflasi )
Ln Pt 1= tingkat harga umum ( inflasi ) periode sebelumnya
Mt      = jumlah unag beredar
K         = koefisisen penyesuaian inflasi
Ln Pt *= tingkat harga umum ( inflasi ) yang diinginkan.

PENDEKATAN KOINTEGRASI DAN ECM      
            PENDEKATAN kointegrasi dimaksudkan untuk melihat hubungan keseimbangan jangka panjang antar variable yang diamati apakah sesuai dengan teori atau tidak , dengan kata lain pendekatan ini dianggap sebagai uji teori dan merupakan bagian penting dalam perumusan dan estimasi suatu model dinamis ( engle dan granger , 1997, insukindro , 1999).
            Pendekatan kontegrasi berkaitan dengan upaya untuk menghindari terjadinya regresi lancung yang akan mengakibatkan koefisien regresi penaksir tidak efisien dan uji baku yang umum akan meleset , berkaitan dengan hal itu perlu diyakini terlebih dahulu bahwa himpunan data yang akan digunakan adalah stasioner , untuk melihat perilaku data apakah sudah stasioner atau belum dapat ditempuh :uji akar-akar unit dan derajat integrasi.


STASIONER DAN NON STASIONER
            Pada umumnya mayoritas teori-teori ekonometri didasari oeh asumsi stasionaritas . asumsi stasioner ini mempunyai konsekwensi penting untuk menterjemahkan data-data dan model ekonometri, karena data yang stasioner akan tidak terlalu bervariasi dan cendrung mendekati nilai-nilai rata-ratanya , sebaliknya untuk data yang tidak stasioner akan dipengaruhi oleh waktu dan cendrung menyimpang dari nilai-nilai rata-ratanya, data yang tidak stasioner ini mungkin disebabkan oleh hal-hal berkaitan dengan trend waktu polinominal , akar-akar unit dan derajat integral.

UJI AKAR-AKAR UNIT DAN DERAJAT INTEGRAL
            Pada prinsipnya uji akar-akar unit dimaksudkan untuk mengamati pada derajat keberapa data akan stationer, sedangkan uji derajat integrasi adalah pengembangan dari uji akar-akar unit . untuk melakukan uji akar-akar unit yang dikembangkan oleh dickey-fuller dengan penaksiran model autoregresif sebagai berikut :
DXt = a0 + a1BXt +( biB+…..+bk BK ) DXt…………………………………….(4)
DX t = c0 +c1T +c2 BXt +( biB+…….bk Bk) DXt……………………………..(5)
DXt  = Xt – X t-1 , BX t = Xt -1
Dimana :
T = trend waktu
Xt= variable yang dimulai pada periode kesatu
B= merupakan operasi kelambanan keudik
Uji derajat integrasi dengan melakukan penaksiran model autogresif berikut :
D2Xt =             c0 + e1BDXt + E fi BiD2Xt…………………………………………………..(6)
D2Xt = g0 + g 1T + g2BXt + E fi BiD2Xy………………………………………….(7)
D2Xt= DZt – DXt-1 , BDXt = DXt – 1
            Uji akar-akar unit dan uji integrasi diatas membrikan indikasi bahwa variable yang diamati adalah tidak stasioner dan harus beintegrasi dengan orde satu atau I(1) , dengan kata lain agar variable pengamatan menjadi stasioner , peril di derivasi pertama .
            Berdasarkan uji akar-akar unit dan uji derajat integrasi maka model selanjutnya yang digunakan untuk mengamati perilaku yang kita amati adalah menggunakan model ECM ( error correction model ) adapaun model ACM adalah sebagai berikut :
ERROR CORRECTION MODEL (ECM)
DLPt = a0 + a1 DLMt + A2 BLPT + A3 U……………………………………….(9 )
Dimana :
LPt       = log (pt)
LMt      =log (Mt)
DLM    = LMt-BLM t
DLP t = LPt – BLPt
U         = variable koreksi( BLPt –BLMt)
M         = JUB
P          = Inflasi
t           = menunjukkan waktuakan metode
B          = operasi kelambanan ke udik
            Model dinamis lain yang diterapkan pada data runtun waktu adalah model granger , odel ini merupakan model sebab akibat , artinya dalam model tersebut variabel dependen dibuat menjadi variable independen dimana dimana variable independen yang dibuat menjadi variabel dependen telah dirubah dalam struktur kelambanan ( lag ) Xp model kausalitas dari granger cukup sederhana dan cara mengetimasi adalah tetap menggunakan metode OLS( ordinary least squares ), serta penerapannya tidak melalui tahapan-tahapan seperti uji akar –akar unit dan uji derajat integrasi , adapaun model granger dalam konteks JUB dan inflasi adalah sebgai berikut :

MODEL GRANGER

            Disajikan dalam konteks inflasi (P) dan jumlah uang beredar( M) model granger dapat dirumuskan sebagai berikut :

                                       m                             m
                              pt  =   E aj Bj Pt     +  E bjMt + et…………………………… (10)
                                        i = 1                      i = 1
                                            m                         m
                                Mt = E ej Bj Mt     + E dj Bj Pt + et………………………..(11)
                                          i=1                        i= 1
dimana :
B = operasi
Et = white noise ( dua untaian yang tidak terjadi serial korelasi )

STUDI EMPIRIS

            DATA yang digunakan dalam tulisan ini adalah data triwulan , data tersebut diperoleh dari data statistic , dalam bentuk tahunan sehingga data tersebut diinterpoasikan dengan menggunakan metode :
Qkt   =  ¼ Qt { 1- ( k-2,5 ) (1-b)/4}…………………………………………………………(12)
Qkt   = data kuartal ke k tahun t
k        = 1,2,3,4
Qt      = data tahun ke t
B       = Operasi kelambanan waktu ke udik h%p
            Untuk mengolah data digunakan teknik ekonometrika dengan menggunakan metode kuadrat terkecil atau OLS. Metode OLS masih dianggap relevan mengingat asumsi “ swara resik “ dipertahankan hal ini menyebabkan metode OLS menjadi metode regresi yang kuat dan popular ( gujarati, 1999)
Untuk memperoleh hasil estimasi data yang diinginkan sesuai dengan model dan metode digunakan program SPSS( STATISTIC PROGRAM SOSIAL SCIENE )
            Uji kausalitas model GRANGER ( model 10 dan 11 ) dilakukan dengan mengestimasi dua buah persamaan berikut , dengan menentukan panjang Lag variable penjualannya :
                    8                    8
Lpt = a0 + am BmLpt + bn E Bnl Mt ……………………………………………….(13)
             m – 1                  m – 1
                    8                     8
Lmt = c0 + cm E BmL Mt  + dn E BnLPt …………………………………………(14 )
            Selain persamaan ( 13 & 14 ) diatas juga dilakukan estimasi dengan persamaan yangdiberi kendala dengan jalan mengurangi jumlah lag variable penjelas yaitu :

                          4                     4
Lpt = a0 + am E BmL Pt + bn E BnL Mt ……………………………………………(15)
                        m-1                  m-1
hasil regresi uji kausalitas model granger yang menunjukkan pengaruh JUB terhadaap inflasi .
dalam penelitian ini menunjukka pengaruh JUB terhadap inflasi , dengan h & p menggunakan lag 4 dan lag 8 menujukka estimasi yang tidak berbeda , baik hasil regresi inflasi terhadap JUB maupun JUB terhadap inflasi , dengan demikian hasil regresi model granger ini menunjukka kausalitas dua arah atau terjadi mekanisme umpan balik . hal ini ditunjukkan oleh koefisisen inflasi dan JUB pada periode lalu menurut model terkait secara statistic adalah significant atau tidak sama dengan 0(+0).
Dengan demikian pendawat umum yang  senada dengan teori klasik dan monotaris bahwa penambahan jumlah uang beredar (JUB) akan menyebabkan inflasi dapat diterima .

III.SIMPULAN

            ADA beberapa catatan yang dapat dikemukakan berkenaan dengan penggunaan model dinamis dan studi mengenai hubungan antara inflasi dan jumlah uang beredar di Indonesia , sebagai berikut :
1.      Agar model yang dirancangkan oleh para peneliti terhindar dari regresi lancung ( palsu ) hendaknya model yang dibuat berkenan dengan varaibel masa lalu ( model dinamis )
2.      Peneliti-peneliti yang cendrung mengkaji fenomena-fenomena ekonomi didasarkan atas variable keseimbangan jangka panjang, pendekatan yang memungkinkan untuk dilakukan adaalh pendekatan koentgrasi
3.      Studi empiris yang menggunakan data runtun waktu , perlu disadari akan adanya perilaku stasionaritas dan non stasionaritas . perilaku stasioner cerminan akan data yang dikaji cendrung memilki variasi yang mendekati nilai rata-ratanya,
4.      Prinsif koentgrasi dan stasioner sebagai konsekwensi penggunaan model dinamis yang sahih yang dapat dilanjutkan dengan uji akar-akar unit, uji derajat integral , uji PAM dan uji ECM.
5.      Dari uji hubungan ( kausalitas ) model granger menunjukkan suatu mekanisme umpan balik ( kausalitas dua arah ) antara inflasi dan JUB . hal ini didasarkan atas hubungan pengaruh JUB terhadap inflasi berlaku significant dan hasilnya sesuai dengan teori kuantitas dan monetaris.

IV.REKOMENDASI
Dengan merujuk hasil estimasi pada study empiris diatas, masih terdapat kendala-kendala terutama menyangkut panjangnya LAG ( Variabel –variabel masa lalu dan validitas data, karena dengan menambah panjangnya lag pada variable penjelas dan data yang dianalisisis tanpa melakukan interpolasi ( validitas data) memungkinkan kita untuk mendapatkan hasil estimasi yang lebih bak , sehingga model yang digunakan tercegah dari regresi lancung (palsu)pada estimasi data,dan model estimasi yang paling dini mendeteksi adanya regresi lancung adalah model dinamis yang meliputi uji : koentegrasi , uji stasioner, uju PAM , uji ACM DAN DIUJI KENDALA LINIERserta uji kausalitas GRANGER.


===============================================================================
V.DAFTAR PUSTAKA
Batunangar , s, 2003 reformasi manajemen krisis di Indonesia, pusat studi kebank sentralan( PPSK)Bank I ndonesia , Jakarta.
Bank Indonesia, 2008 , laporan tahunan bank Indonesia, bank Jakarta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar