ANALISA HUBUNGAN JUMLAH UANG BEREDAR DAN INFLASI DI INDONESIA
( SUATU PENERAPAN MODEL DINAMIS )
PENDAHULUAN
I.LATAR BELAKANG
I.LATAR BELAKANG
Beberapa definisi tentang inflasi yang dikemukakan oleh para
fakar ekonomi makro walaupun dirumuskan dengan kata yang berbeda-beda. Pada
prinsipnya terkandung makna yang sama , inflasi adalah suatu keadaan dimana
terdapat kecendrungan harga- harga umum untuk naik secara terus-menerus .
Ada indikasi dari beberapa pemerhati
masalah ekonomi di Indonesia, bahwa ada semacam consensus dikalangan pembuat
kebijakan untuk penerima tingkat inflasi yang dianggap ringan , artinya tidak
berbahaya terhadap proses pembangunan ekonomi yang sedang berlangsung . menurut
Arieft ( 2000: 4/5) bahwa tingkat inflasi sebesar 5 – 10 persen pertahun
merupakan tingkat inflasi yang dapat merangsang kegiatan infestasi sehinga
terjadi pertumbuhan ekonomi yang relative tanpa menimbulkan disequilibrium yang
dapat mengganggu kewajaran proses perkembangan ekonomi . oleh karena itu
pemerintah Indonesia terus berupaya untuk memelihara agar laju inflasi setiap
tahun tidak lebih dari satu .
Di Indonesia fluktuasi sangat
responsip terhadap kegiatan ekonomi tertentu yang dilakukan baik oleh
pemerintah maupun swasta. Proses terjadinya inflasi tersebut bisa diamati dari
dua sisi yaitu dari sisi permintaan dan dari sisi penawaran .
Inflasi yang timbul karena masyarakat
meminta barang lebih banyak dari yang bisa disediakan oleh perekonomian , atau juga dengan
bertambahnya pengeluaran pemerintah yang dibiayai dengan pencetakan uang baru
disebut demand pull inflation ( sisi permintaan )sedangkan inflasi yang
ditimbulkan karena kenaikan biaya produksi , misalnya akibat kenaikan harga
bahan baku industry disebut inflasi tekanan biaya atau cost push inflation (
sisi penawaran ) .
Dalam bentuknya yang murni ada dua
jenis inflasi itu jarang sekali ditemui dalam praktek . pada umumnya inflasi
yang terjadi diberbagai Negara di dunia adalah
kombinasi kedua jenis inflasi tersebut dan seringkali keduanya saling
memperkuat ( Boediono,1990: 101)namun demikian dominasi pengaruh yang satu
terhadap yang lain dapat diamati dari proses perubahan output nasional sebagai
akibat kenaikan harga inflasi tersebut . bila kenaikan harga yang terjadi
disertai dengan penurunan output nasional , maka inflasi tersebut cendrung
didominasi oleh adanya tekanan biaya. Sebaliknya bila kenaikan harga tersebut
dibarengi dengan kenaikan output nasional, maka inflasi cendrung didominasi
oleh inflasi dorongan permintaan.
Dalam tulisan ini analisis lebih
ditekankan pada inflasi dari sisi permintaan, yaitu dengan menggunakan proxy
rasio jumlah uang yang beredar terhadap PDB (M2) sebagai variable penentu utama
tingkat inflasi , selain itu pajak sebagai salah satu perangkat kebijakan
fiscal yang mempunyai sifat deflator diduga akan dapat mengurangi
lonjakan-lonjakan perilaku inflasi di Indonesia melalui pengurangan pada
lonjakan fluktuasi permintaan agregatif .
II. ALAT ANALISIS TEORI
Untuk melihat hubungan antara jumlah
uang beredar (JUB) dengan kenaikan harga ( inflasi ) didekati dengan persaman
pertukaran dari fisher . analisis fisher dimulai dengan mengetengahkan
identitas :
M.V = P.T
Dimana :
M = adalah
jumlah uang beredar dalam perekonomian .
V =
merupakan rata-rata waktu satu unit uang berpindah tangan untuk suatu
periode
Waktu tertentu
T =
merupakan volume transaksi ,
P = tingkat harga.
Menurut fisher orang bersedia memegang uang karena
kegunaannya dalam proses transaksi dan dipengaruhi oleh factor kelembagaan,
factor-faktor kelembagaan pada umumnya hanya berubah secara sporadic dan akan
berpengaruh terhadap V , sehingga dalam jangka pendek V dianggap tetap. Volume
transaksi ditentukan oleh tingkat pendapatan masyarakat dan perekonomian berada dalam kesempatan
kerja penuh, sehingga T dapat dianggap konstan , kedua asumsi ini menyebabkan
identitas fisher dapat dirubah menjadi suatu teori yaitu :
Md = (1 /Vt) P.T ( 2 )
Persamaan (1) menunjukkan dalam jangka pendek permintaan uang
merupakan bagian yang tetap dari nilai transaksi , ( P.T) yang menunjukkan suatu
proporsi constant dari tingkat pendapatan nasional nominal . oleh karena itu
permintaan uang masyarakat ditentukan oleh tingkat pendapatan masyarakat.
Selanjutnya
penawaran uang (MS) di tentukan secara eksogen dan dalam keadaan keseimbangan
sama dengan permintaan uang ( Md) , sehingga akan terjadi hubungan sebagai
berikut :
Ms = Md
dimana Md = (1/Vt) P.T, sehingga
Ms = (1/vt)
P.T
Jadi dengan perekonomian dalam keadaan tingkat kesempatan
kerja penuh dan dengan asumsi bahwa Vt dan T adalah konstan dalam jangka pendek
sementara M dianggap ditentukan secara eksogen oleh otoritas moneter maka
tingkat harga menjadi variable dependen
dari persamaan diatas, sejalan dengan itu maka perubahan tingkat harga uang (
inflasi ) tentunya akan berasal dari perubahan jumlah uang yang beredar
.persamaan ini dapat ditulis menjadi :
dMs = (
1/Vt) dP.T
dMs =
(1/Vt).Dp
PARTIAL ADJUSMENT MODEL (PAM)
Model yang digunakan untuk
mengestimasi inflasi di Indonesia dapat ditulis sebagai berikut :
Pt* = f (Mt ) atau
Pt* =a 0 + a 1 Mt……………………….(1)
Persamaan 1
dapat dirubah kedalam bentuk persamaan logaritma natural :
Ln Pt* = a 0 + a 1 Ln Mt……………..(2)
Dalam PAM diasumsikan bahwa pelaku ekonomi selalu
menyesuaikan tingkat harga umum ( inflasi ) pada suatu periode dengan periode
sebelumnya , sehingga :
Ln Pt – Ln Pt 1=
K( Ln Pt* -Ln Pt 1) ……………………..(3)
Persamaan
(2) disubstitusikan kedalam persamaan (3) didapat hasil sebagai berikut :
Ln Pt – Ln Pt1 = k( a 0+a 1 Ln Mt)
Ln Pt = k a0 + k a 1Ln Mt+ (1-k) Ln Pt1
Dimana :
Ln Pt = tingkat harga
umum ( inflasi )
Ln Pt 1= tingkat harga umum ( inflasi ) periode sebelumnya
Mt = jumlah unag
beredar
K = koefisisen
penyesuaian inflasi
Ln Pt *= tingkat harga umum ( inflasi ) yang diinginkan.
PENDEKATAN KOINTEGRASI DAN ECM
PENDEKATAN kointegrasi dimaksudkan
untuk melihat hubungan keseimbangan jangka panjang antar variable yang diamati
apakah sesuai dengan teori atau tidak , dengan kata lain pendekatan ini
dianggap sebagai uji teori dan merupakan bagian penting dalam perumusan dan
estimasi suatu model dinamis ( engle dan granger , 1997, insukindro , 1999).
Pendekatan
kontegrasi berkaitan dengan upaya untuk menghindari terjadinya regresi lancung
yang akan mengakibatkan koefisien regresi penaksir tidak efisien dan uji baku
yang umum akan meleset , berkaitan dengan hal itu perlu diyakini terlebih
dahulu bahwa himpunan data yang akan digunakan adalah stasioner , untuk melihat
perilaku data apakah sudah stasioner atau belum dapat ditempuh :uji akar-akar
unit dan derajat integrasi.
STASIONER DAN NON STASIONER
Pada umumnya mayoritas teori-teori
ekonometri didasari oeh asumsi stasionaritas . asumsi stasioner ini mempunyai
konsekwensi penting untuk menterjemahkan data-data dan model ekonometri, karena
data yang stasioner akan tidak terlalu bervariasi dan cendrung mendekati
nilai-nilai rata-ratanya , sebaliknya untuk data yang tidak stasioner akan
dipengaruhi oleh waktu dan cendrung menyimpang dari nilai-nilai rata-ratanya,
data yang tidak stasioner ini mungkin disebabkan oleh hal-hal berkaitan dengan
trend waktu polinominal , akar-akar unit dan derajat integral.
UJI AKAR-AKAR UNIT DAN DERAJAT INTEGRAL
Pada
prinsipnya uji akar-akar unit dimaksudkan untuk mengamati pada derajat keberapa
data akan stationer, sedangkan uji derajat integrasi adalah pengembangan dari
uji akar-akar unit . untuk melakukan uji akar-akar unit yang dikembangkan oleh
dickey-fuller dengan penaksiran model autoregresif sebagai berikut :
DXt = a0 + a1BXt +( biB+…..+bk BK ) DXt…………………………………….(4)
DX t = c0 +c1T +c2 BXt +( biB+…….bk Bk) DXt……………………………..(5)
DXt = Xt – X t-1 , BX
t = Xt -1
Dimana :
T = trend waktu
Xt= variable yang dimulai pada periode kesatu
B= merupakan operasi kelambanan keudik
Uji derajat integrasi dengan melakukan penaksiran model
autogresif berikut :
D2Xt = c0 +
e1BDXt + E fi BiD2Xt…………………………………………………..(6)
D2Xt = g0 + g 1T + g2BXt + E fi BiD2Xy………………………………………….(7)
D2Xt= DZt – DXt-1 , BDXt = DXt – 1
Uji
akar-akar unit dan uji integrasi diatas membrikan indikasi bahwa variable yang
diamati adalah tidak stasioner dan harus beintegrasi dengan orde satu atau I(1)
, dengan kata lain agar variable pengamatan menjadi stasioner , peril di
derivasi pertama .
Berdasarkan
uji akar-akar unit dan uji derajat integrasi maka model selanjutnya yang
digunakan untuk mengamati perilaku yang kita amati adalah menggunakan model ECM
( error correction model ) adapaun model ACM adalah sebagai berikut :
ERROR CORRECTION MODEL (ECM)
DLPt = a0 + a1 DLMt + A2 BLPT + A3 U……………………………………….(9 )
Dimana :
LPt = log (pt)
LMt =log (Mt)
DLM = LMt-BLM t
DLP t = LPt – BLPt
U = variable
koreksi( BLPt –BLMt)
M = JUB
P = Inflasi
t =
menunjukkan waktuakan metode
B = operasi
kelambanan ke udik
Model
dinamis lain yang diterapkan pada data runtun waktu adalah model granger , odel
ini merupakan model sebab akibat , artinya dalam model tersebut variabel
dependen dibuat menjadi variable independen dimana dimana variable independen
yang dibuat menjadi variabel dependen telah dirubah dalam struktur kelambanan (
lag ) Xp model kausalitas dari granger cukup sederhana dan cara mengetimasi
adalah tetap menggunakan metode OLS( ordinary least squares ), serta
penerapannya tidak melalui tahapan-tahapan seperti uji akar –akar unit dan uji
derajat integrasi , adapaun model granger dalam konteks JUB dan inflasi adalah
sebgai berikut :
MODEL GRANGER
Disajikan dalam konteks inflasi (P)
dan jumlah uang beredar( M) model granger dapat dirumuskan sebagai berikut :
m m
pt = E aj Bj Pt + E
bjMt + et…………………………… (10)
i =
1 i = 1
m m
Mt = E ej Bj
Mt + E dj Bj Pt + et………………………..(11)
i=1 i= 1
dimana :
B = operasi
Et = white noise ( dua untaian yang tidak terjadi serial
korelasi )
STUDI EMPIRIS
DATA yang digunakan dalam tulisan ini
adalah data triwulan , data tersebut diperoleh dari data statistic , dalam
bentuk tahunan sehingga data tersebut diinterpoasikan dengan menggunakan metode
:
Qkt = ¼ Qt { 1- ( k-2,5 ) (1-b)/4}…………………………………………………………(12)
Qkt = data kuartal ke
k tahun t
k = 1,2,3,4
Qt = data tahun ke
t
B = Operasi
kelambanan waktu ke udik h%p
Untuk
mengolah data digunakan teknik ekonometrika dengan menggunakan metode kuadrat
terkecil atau OLS. Metode OLS masih dianggap relevan mengingat asumsi “ swara
resik “ dipertahankan hal ini menyebabkan metode OLS menjadi metode regresi
yang kuat dan popular ( gujarati, 1999)
Untuk memperoleh hasil estimasi data yang diinginkan sesuai
dengan model dan metode digunakan program SPSS( STATISTIC PROGRAM SOSIAL SCIENE
)
Uji
kausalitas model GRANGER ( model 10 dan 11 ) dilakukan dengan mengestimasi dua
buah persamaan berikut , dengan menentukan panjang Lag variable penjualannya :
8 8
Lpt = a0 + am BmLpt + bn E Bnl Mt ……………………………………………….(13)
m – 1 m – 1
8 8
Lmt = c0 + cm E BmL Mt
+ dn E BnLPt …………………………………………(14 )
Selain
persamaan ( 13 & 14 ) diatas juga dilakukan estimasi dengan persamaan
yangdiberi kendala dengan jalan mengurangi jumlah lag variable penjelas yaitu :
4 4
Lpt = a0 + am E BmL Pt + bn E BnL Mt ……………………………………………(15)
m-1 m-1
hasil regresi uji kausalitas model granger yang
menunjukkan pengaruh JUB terhadaap inflasi .
dalam penelitian ini menunjukka pengaruh JUB terhadap inflasi
, dengan h & p menggunakan lag 4 dan lag 8 menujukka estimasi yang tidak
berbeda , baik hasil regresi inflasi terhadap JUB maupun JUB terhadap inflasi ,
dengan demikian hasil regresi model granger ini menunjukka kausalitas dua arah
atau terjadi mekanisme umpan balik . hal ini ditunjukkan oleh koefisisen
inflasi dan JUB pada periode lalu menurut model terkait secara statistic adalah
significant atau tidak sama dengan 0(+0).
Dengan demikian pendawat umum yang senada dengan teori klasik dan monotaris
bahwa penambahan jumlah uang beredar (JUB) akan menyebabkan inflasi dapat
diterima .
III.SIMPULAN
ADA beberapa
catatan yang dapat dikemukakan berkenaan dengan penggunaan model dinamis dan
studi mengenai hubungan antara inflasi dan jumlah uang beredar di Indonesia ,
sebagai berikut :
1. Agar model yang dirancangkan oleh
para peneliti terhindar dari regresi lancung ( palsu ) hendaknya model yang
dibuat berkenan dengan varaibel masa lalu ( model dinamis )
2. Peneliti-peneliti yang cendrung
mengkaji fenomena-fenomena ekonomi didasarkan atas variable keseimbangan jangka
panjang, pendekatan yang memungkinkan untuk dilakukan adaalh pendekatan
koentgrasi
3. Studi empiris yang menggunakan data
runtun waktu , perlu disadari akan adanya perilaku stasionaritas dan non
stasionaritas . perilaku stasioner cerminan akan data yang dikaji cendrung
memilki variasi yang mendekati nilai rata-ratanya,
4. Prinsif koentgrasi dan stasioner
sebagai konsekwensi penggunaan model dinamis yang sahih yang dapat dilanjutkan
dengan uji akar-akar unit, uji derajat integral , uji PAM dan uji ECM.
5. Dari uji hubungan ( kausalitas )
model granger menunjukkan suatu mekanisme umpan balik ( kausalitas dua arah )
antara inflasi dan JUB . hal ini didasarkan atas hubungan pengaruh JUB terhadap
inflasi berlaku significant dan hasilnya sesuai dengan teori kuantitas dan
monetaris.
IV.REKOMENDASI
Dengan merujuk hasil estimasi pada
study empiris diatas, masih terdapat kendala-kendala terutama menyangkut
panjangnya LAG ( Variabel –variabel masa lalu dan validitas data, karena dengan
menambah panjangnya lag pada variable penjelas dan data yang dianalisisis tanpa
melakukan interpolasi ( validitas data) memungkinkan kita untuk mendapatkan
hasil estimasi yang lebih bak , sehingga model yang digunakan tercegah dari
regresi lancung (palsu)pada estimasi data,dan model estimasi yang paling dini mendeteksi
adanya regresi lancung adalah model dinamis yang meliputi uji : koentegrasi ,
uji stasioner, uju PAM , uji ACM DAN DIUJI KENDALA LINIERserta uji kausalitas
GRANGER.
===============================================================================
V.DAFTAR
PUSTAKA
Batunangar ,
s, 2003 reformasi manajemen krisis di
Indonesia, pusat studi kebank sentralan( PPSK)Bank I ndonesia , Jakarta.
Bank
Indonesia, 2008 , laporan tahunan bank
Indonesia, bank Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar