ANATOMI SISTEM SOSIAL
Rekonstruksi
Normalitas relasi social dengan menggunakan pendekatan system
BAB I
REORIENTASI ILMU-ILMU
KEMANUSIAAN
A.TANTANGAN-TANTANGAN ILMU SOSIAL
Pandangan yang
telah lama muncul terhadap keberadaan ilmu social adalah secara metodologis
ilmu-ilmu social tidak bisa melepaskan dirinya dari bayang-bayang positivistic
ilmu-ilmu alam, pencapaian nyata ilmu-ilmu alam yang sangat fantastis dan luar
biasa dalam menghasilkan teknologi bagi kemudahan umat manusia , sedangkan
ilmu-ilmu social masih sibuk menjawab dakwaan yang ditujukan kepadanya sebagai
disiplin yang lamban dan belum bisa membuat lompatan-lompatan yang berarti
secara ilmiah.
Banyak hal
yang harus dikaji ulang dalam kontruksi ilmu-ilmu social yang ada sekarang ,
setidaknya upaya ini akan menghadapi tiga tantangan ,yaitu:
1.
Identifikasi dan deskripsi fenomena dari data
yang dikaji.
2.
Rumusan model teoritik ( general theoretical
model ) untuk menjelaskan fenomena yang telah dideskripsikan.
3.
Criteria justifikasi atau validasi dari
hasil-hasil kajian.
Deskripsi data bisa berbentuk
klasifikasi fenomena-fenomena yang masing-masing memiliki relevansi dengan hypothetical construct
tertentu dari teori atau sub teori yang digunakan dan sering juga berbentuk
generalisasi-generalisasi yang dibuat secara induktif dari berbagai data yang
diamati. Model teoritik adalah abstract formalized system yang
komponen-komponennya seperti semua sub teori, proposisi (theoretical
statements), konsep( theoretical concepts) dan lain-lain dinyatakan secara
eksplisit , model teoritik digunakan untuk menjelaskan atau membuat turunan
dari generalisasi-generalisasi yang telah dilakukan melalui kegiatan deskripsi.
Ketiga
hal diatas bila diikuti tidak mudah dilakukan dalam ilmu-ilmu social
kemanusiaan ( behavioral sciences ) problem yang sering dikemukakan adalah
berkaitan dengan perbedaan mendasar antara kajian-kajian ilmu kemanusiaan
dengan ilmu-ilmu eksakta , terutama yang berkaitan dengan hakekat data dari
masing-masing bidang.
Berdasarkan
gambaran diatas para ilmuwan social agaknya dihadapkan pada dua pilihan yang
sulit yaitu: petama, membiarkan ilmu-ilmu social berjalan sebagaimana yang ada
sekarang ini,kedua, secara kreatif mencoba mengikuti model pendekatan
pengkajian ala Galilean style seperti yang selama ini dipraktekkan dengan
sangat berhasil dalam ilmu-ilmu eksakta.
Bila dicermati kembali apa yang terjadi dalam ilmu-ilmu
eksakta , setidaknya kita mencatat setidak-tidaknya tiga hal krusial :
1.
Adanya data yang relative sederhana dan homogen
2.
Adanya model teoritik dengan struktur tertentu
yang ditawarkan
3.
Karena 1) Dan 2) terdapat kemajuan ilmiah yang
sangat pesat , sebaliknya dalam ilmu-ilmu social karena 1) dan 2) tidak
dimiliki maka kondisi seperti pada 3) tidak atau belum terjadi . ini
berarti secara rasional bila problem
yang berkaitan dengan 1) bisa diatasi atau direkonseptualisasi , maka bentuk
awal dari 2)bisa dikonstruksi sehingga suatu saat nanti, bila model teoritiknya
telah mengalami penyempaurnaan setelah mendapatkan pengujian-pengujian empiric
yang memadai , kita berharap 3) akan menjadi kenyataan dalam ilmu-ilmu
kemanusiaan.
Problem
sesungguhnya yang dihadapi dalam ilmu-ilmu social bukan berkaitan dengan data
atau perilaku manusia yang sering tidak bisa ditebak akan tetapi berkaitan
dengan cara berfikir ilmuwan di bidang ini . dalam bidang ini sebagaimana juga
dalam ilmu-ilmu social banyak data atau fenomena yang perilakunya unexpected
–jadi tidak sehomogen dan seteratur seperti anggapan selama ini. Tapi berbeda
dengan para ilmuwan social , para ilmuwan eksakta menyikapi data yang tidak
beraturan itu dengan cara yang berbeda , pertama mereka membuat asumsi bahwa
alam memiliki :1) pola-pola perilaku yang alami,sederhana dan teratur dan
perilaku seperti ini tidak memerlukan banyak penjelasan ilmiah tertentu karena
sudah dianggap self-explanatory 2). Pola-pola perilaku yang tidak alami yang tidak diharafkan memerlukan hukum-hukum
(laws) ilmiah untuk menjelaskannya.
Menurut
TOULMIN teori setidak-tidaknya memiliki tiga komponen dengan hirarki struktur
sebagai berikut :
1)
Ideals of natural order.
2)
Laws
3)
Hypotheses
Point 1),2) dan 3) bersifat hirarkis .
point 1) berkaitan dengan konsep normal order , tatanan obyek sebagaimana
mustinya ,dan 2)dan 3) berkaitan dengan devian order .
Salah satu contoh the ideals of order yang
diberikan toulmin berkaitan dengan hukum pertama newton , hukum inertia dimana
obyek diklaim memiliki perilaku yang
terbebas dari pengalaman sehari-hari , kita tidak akan jumpai sebuah
Benda yang berprilaku sesuai dengan pola ideal ini dan selalu saja terdapat
deviasi , besar atau kecil dari perilaku ideal itu , berdasarkan kenyataan ini
maka kemudian dibuatlah hukum (laws) misalnya hukum gravitasi untuk menjelaskan
alasan-alasan kenapa terjadi deviasi tersebut.
Bila langkah ini yang dilakukan dalam
ilmu-ilmu social maka dalam domain kajian masing-masing , para ilmuwan social
akan dengan mudah mengidentifikasi secara empiris fenomena-fenomena mana yang
memilki pola perilaku yang sehat dan alami , dan mana yang tidak alami , yaitu
yang telah mengalami proses deviasi-deviasi tertentu.
Dari gambaran diatas dapat ditegaskan bahwa
perbedaan antara ilmu –ilmu social dengan ilmu-ilmu eksakta selama ini bukan
terletak pada isu yang berkaitan dengan data tetapi berkaitan dengan perbedaan cara berfikir tentang bagaimana membangun
struktur teori ilmiah . para ilmuwan eksakta mencoba menerangkan data-datanya
dengan membangun model teoritik umum yang koheren sedangkan para ilmuwan social
membuat teori untuk menjelaskan secara ad.hoc. data atau fenomena yang sedang
diamati secara langsung .
B. MENUJU ILMU-ILMU SOSIAL TRANSFORMATIF.
Model
teoritik yang berterima secara ilmiah adalah model yang mampu memberikan
prediksi secara akurat kenapa terjadi keragaman perilaku manusia yang ada
sekarang ini, ini analog dengan teori tentang “ solar system” dimana data
primernya yaitu matahari sendiri, tidak aksesibel langsung oleh para peneliti .
Sebagaimana kita ketahui kegiatan ilmiah
berkaitan dengan dunia apa adanya (is) bukan dengan dunia sebagaimana
seharusnya (ought to ) kebenaran-kebenaran ilmiah sebagaimana difahami selama
ini , berhubungan dengan adanya korespondensi antara pernyataan ilmiah dengan
dunia realistis sebagaimana adanya itu. Pernyataan –pernyataan ilmiah selalu
berbentuk deskripsi tentang dunia realistis. Menurut David Home , tidak ada
suatu konklusi yang sahih dalam bentuk pernyataan yang berkaitan dengan” ought
to” yang bisa ditarik dari sejumlah premis betapapun lengkapnya yang terdiri
dari pernyataan yang bersifat deskriptif.
Menurut
Monod , ilmu pengetahuan dan nilai-nilai moral tidak bisa dipisahkan,keduanya
selalu berkait dan berada bersama dalam semua tindakan manusia . setiap
tindakan terkait dengan pilihan-pilihan nilai tertentu, baik maupun buruk, dan
pengetahuan selalu berada dibalik setiap tindakan. Akan tetapi pengetahuan yang
benar yaitu pengetahuan ilmiah dengan prinsip obyektivitas yang ada didalamnya,
tidak boleh melibatkan value judgment tertentu apapun karena value judgment
yang dianggap non obyektif bertentangan dengan prinsip obyektifitas,value
judgment tidak bisa berada satu atap didalam ranah ilmu pengetahuan dan sejak
itu moralitas tidak bisa menjadi bagian darinya.
Menurut Monod mengkaitkan hubungan logis
antara ilmu pengetahuan dan etika , hubungan logis yang menghubungkan
pengetahuan dengan nilai tidaklah bersifat obiyektif.pengetahuan yang benar ,
sekalipun bebas nilai , pada analisa terakhir , haruslah berangkat dari, atau
berdasarkan pada postulat yang bersifat moral, yaitu sebuah nilai yang bersifat
aksiomatik . menerima prinsif obyektifitas sebagai kondisi (syarat )untuk
mendapatkan pengetahuan yang benar adalah apriori berkaitan dengan pilihan yang
bersifat etis dan bukanlah pilihan yang berkaitan dengan , atau berdasarkan
pada, pengetahuan . jadi untuk membangun norma bagi pengetahuan yang benar,
prinsip obyektivitas mengandaikan sebuah nilai , dan nilai itu adalah
pengetahuan obyektif itu sendiri.
Bila
kita melihat sebagaimana pengalaman kita sehari-hari , bahwa value judgment dan pengetahuan selalu
bersama-sama berada dalam suatu tindakan atau diskursus manusia ,dan bila kita
melihat sebagai fakta , maka kegiatan professional ilmiah sebagai salah satu
bentuk tindakan atau diskursus manusia akan secara transitif berarti tidak
mungkin tidak ada value judgment di dalamnya.
Sebagaimana dijelaskan di muka, model
teoritik umum ilmu-ilmu kemanusiaan memilki komponen yang secara hirarkis
tertinggi, yaitu model normative dari the ideal of social ordering berfungsi
sebagai norma atau ukuran penilaian tentang normalitas pola perilaku empiric
sosiologis , dan berdasarkan deskripsi data empiris ini , deviasi yang terjadi
berdasarkan frame normative bisa diidentifikasi dan dijelaskan.
Keuntungan
kedua bersifat praksis, karena cara pengembangan model teoritik yang ditawarkan
disini bersifat second order , bukan first order seperti yang didapatkan dalam
ilmu-ilmu eksakta maka secara praksis arahan teoritik tentang apa yang bisa
diperbuat setelah proses diagnosistik
dilakukan menjadi sangat eksplisit ,sebab kegiatan empiric yang dilakukan
justru dalam rangka identifikasi, penjelasan dan penilaian terhadap
deviasi-deviasi yang telah terjadi relative dibandingkan dengan ukuran normal
yang ada dalam model teoritik.
Di atas telah dipaparkan strategi yang
harus dilakukan dalam rangka membangun model teoritik umum yang encompassing
dalam ilmu-ilmu kemanusiaan .juga telah dipaparkan alasan-alasan serta
keuntungan-keuntungan yang didapatkan bila strategi ini digunakan .