Selasa, 12 Januari 2016



KEWIRAUSAHAAN SUATU SOLUSI MENANGGULANGI KEMISKINAN

ABSTRAK


            Memperkuat kemampuan penduduk miskin untuk meningkatkan kan taraf hidupnya dengan membuka kesempatan berusaha  dengan diarahkan pada pengembangan kegiatan social ekonomi untuk mewujudkan kemandirian penduduk miskin Pembangunan nasional bermuara pada manusia sebagai insan yang harus dibangun kehidupannya dan sekaligus merupakan sumber daya pembangunan yang harus terus ditingkatkan kwalitasnya dan kemampuannya untuk meningkatkan harkat dan martabatnya . berbagai macam program guna menanggulangi kemiskinan telah dilakukan oleh pemerintah , program tersebut adalah bertujuan untuk menumbuhkan dan memperkuat kemampuan penduduk di desa/ kelurahan.
            Sesungguhnya dampak yang diinginkan oleh pemrerintah melalui berbagai program penanggulangan kemiskinan itu adalah penguatan penduduk miskin yang bisa miskin umumnya tidak memilki pekerjaan tetap  atau menganggur atau hasil kerja mereka tidak memberikan pendapatan yang memadai , maka program-program pemerintah yang bertujuan pada upaya ditempuh melalui empat jalur yaitu peningkatan kwalitas sumber daya manusia, pengembangan peluang kerja dan berusaha , dan penguatan kelembagaan kelompok penduduk miskin.mengingat bahwa penduduk peningakatan penciftaan dan perluasan kesempaan kerja , dan dalam hal inilah peran kewirausahaan tidak dapat diremehkan . namun demikian upaya menciftakan manusia wirausaha , membutuhkan waktu relative lama dan pengalaman tertentu, karena hal ini menyangkut sikap mental seseorang . jiwa kewirausahaan muncul disamping pembawaan manusia sejak lahir , juga dapat dibentuk oleh factor-faktor lingkungan  dimana seseorang berada .
 factor penting yang perlu  diperhatikan adalah pengembangan  jiwa kewirausahaan tersebut mutlak dilandasi nilai-nilai moral dalam mengejar peningkatan kondisi social ekonomi masyarakat  Indonesia.


I.PENDAHULUAN

Pemikiran tentang pengembangan sumber daya manusia menjadi semakin serius , karena harus diakui bahwa sumber daya manusia tersebut memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional khususnya dalam menyambut era industrialisasi yang umumnya menerapkan teknologi tinggi. Dengan demikian muncul sinyalemen yang menyatakan bahwa manusia bukan semata-mata sebagai obyek umum namun juga merupakan obyek pembangunan . oleh karena itu diperlukan perhatian yang serius , konsisten, berkesinambungan dan tulus ikhlas dari semua fihak sehingga misi yang memiliki nilai strategis dalam republic  ini dapat diselesaikan dengan sukses .
Penduduk republic Indonesia cukup besar sedangkan tingkat hidupnya masih relative rendah . dilain fihak kekayaan sumber daya alam yang dimiliki menunjukkan potensi yang menggembirakan untuk meningkatkan taraf hidup seluruh lapisan masyarakat .
Selanjutnya payamah s simanjutak (2000) menyatakan bahwa penduduk Indonesia yang besar mencerminkan :
1)    Kebutuhan masyarakat yang juga besar seperti kebutuhan sandang pangan , papan, energy , kesempatan kerja dan sebagainya.
2)    Potensi yang dapat dikembangkan untuk mengolah sumber-sumber alam yang tersedia untuk kesejahteraan masyarakat.

Berkaitan dengan hal tersebut , maka diperlukan prinsip –prinsip pendayagunaan tenaga kerja dan kemampuan manusia mengolah sumber daya yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan manusia itu sendiri , hal ini searah dengan tujuan pembangunan yaitu pembangunan manusia seutuhnya . pembangunan manusia seutuhnya mencakup berbagai aspek antara lain termasuk pendidikan dan latihan . pendayagunaan sumber daya manusia melalui kesempatan kerja sekaligus perlindungan hak –hak dan jaminan hidupnya yang layak .

            Di dalam masyarakat yang maju , manusia senantiasa mempunyai kedudukan yang makin penting meskipun kita berada atau sedang menuju kearah masyarakat yang berorientasi kerja (work oriented) yang memandang kerja adalah sesuatu yang mulia . kita tidaklah berarti mengabaikan aspek manusia yang melaksanakan pekerjaan tersebut. Pandangan dan falsafah yang dimiliki masyarakat menunjukkan hal tersebut dengan semakin kuatnya permintaan.  untuk memperhatikan aspek manusia dan bukan hanya aspek teknologi dan ekonomi dalam setiap usaha. Dalam berbagai keadaan, niali-nilai manusiawi ( human values) dapat diselaraskan secara baik dengan aspek teknologi dan berarti pula bahwa pengembangan sumber daya manusia Indonesia mengarah kepada hal –hal yang positive . namun demikian berbagai masalah yang dihadapi berkaitan dengan pemanfaatan potensi sumber daya manusia ini antara lain output perguruan tinggi.

            Sejalan dengan itu  pada stadium general  mengenai pengelolaan keuangan Negara yang akuntabel  DI REKTORAT UNIVERSITAS MATARAM rector universits mataram SUNARPI Pada bulan OKTOBER 2013 mengemukakan bahwa secara nasional output sarjana yang dihasilkan perguruan tinggi negeri maupun perguruan tinggi swasta mencapai lebih kurang sebesar 200 ribuan prertahun sementara yang mampu diserap untuk memperoleh lapangan pekerjaan adalah berkisar antara 20 persen sampai 30 persen pertahun , angka-angka tersebut secara akumulatif akan terus bertambah setiap tahun. Gambaran keadaan tersebut belum termasuk tingkat pendidikan SLTA , kebawah sehingga dalam kurun waktu 15 tahun terakhir ini tingkat pengangguran dikalangan lulusan sekolah lanjutan dan perguruan tinggi disinyalir menunjukkan peningkatan hampir 200 persen.

            Besarnya angka pertumbuhan pengangguran tersebut disebabkan ketidakmampuan sector pertanian, perdagangan, jasa, pegawai negeri dan sebagian untuk menyerap tenaga kerja baru. Bahkan ironisnya sector swasta umumnya mencari tenaga kerja baru dengan persyaratan yang relative lebih ketat missalnya memiliki pengalaman kerja.

            Berdasarkan gambaran dari apa  yang telah dipaparakn di muka , kalau manusia Indonesia yang berpendidikan saja  cukup sulit memperoleh pekerjaan maka bagaimana halnya dengan manusia Indonesia lainnya yang memiliki tingkat pendidikan dan ketrampilan yang rendah apalagi yang tidak pernah sama sekali mengenyam pendididkan formal maupun non formal . akibat adanya kondisi demikian itu maka terdapat gejala kemiskinan berkelanjutan ( dari sudut pandang ekonomi) . pada hakekatnya kemiskinan itu muncul bukan bukan karena mereka berkeinginan atau bercita-cita menjadi miskin karena “SUDAH BOSAN JADI ORANG KAYA” , namun karena mereka tidak dapat atau sulit menghindarinya dengan kekuatan atau kemampuan yang ada pada diri mereka sendiri, apabila kondisi kemiskinan warga bangsa ini dilihat dari pola hubungan sebab-akibat , maka orang miskin adalah mereka yang serba kurang mampu dan terbelit dalam lingkungan ketidak berdayaan.
           
            Sejalan dengan itu untuk meningkatkan kwalitas dan mengangkat harkat matabat penduduk dari jurang dan lingkaran kemiskinan menurut profesor MUBYARTO diperlukan kebijaksanaan, komitmen, organisasi dan program (bukan proyek) serta pendekatan yang tepat . lebih dari itu dipeerlukan suatu sikap yang tidak memperlakukan orang miskin hanya sebagai obyek tetapi sebagai subyek . pada prinsipnya predikat orang miskin bukanlah orang yang tidak memiliki apapun , nmaun hakekatnya orang miskin adalah orang punya sesuatu , terutama harga diri dan percaya diri yang menutut kita oang beradan dengan segenap akal sehat dan ketulusan ikhlas untuk mengembangkannya .

            Adapun nusa tenggara barat (NTB) berbaai masalah yang dihadapi diantaranya menyangkut income perkapita masyarakat yang masih relative rendah dibandingkan rata-rata nasional . laju pertumbuhan penduduk cukup tinggi dan penyebaran yang tidak merata antara pulau Lombok dan pulau Sumbawa , sempitnya  lapangan kerja diluar sector pertanian serta rendahnya kwalitas sumber daya manusia .

            Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan waktu relative panjang , adanya koordinasi dn keterpaduan antar sector maupun antar daerah .




II.PERMASALAHAN


DALAM UPAYA menanggulangi kemiskinan ,yang menjadi permasalahannya adalah :

1.    Aspek kemiskinan apa  yang dituju oleh suatu program penanggulangan kemiskinan , missalnya aspek ekonomis , politis, mobilitas social , pelapisan social . cultural, pendidikan dan sebagainya.
2.    Wahan apa yang dipergunakan  untuk mencapai tujuan teersebut ?misalnya : upaya perbaikan kondisi social warga miskin melalui peluang kerja , pendapatan, kesehatan , self resfect atau untuk meningkatkan mobilitas social , misalnya melalui pendididkan anak-anak mereka .
Dengan menemukan beberapa pertanyaan yang spesifik tersebut diatas , program – program penaggulangan kemiskinan akan menjadi lebih terarah,mengingat luasnya ruang lingkup pembahasan dalam penanggulangan kemiskinan maka dalam tulisan ini diajukan solusi antara lain “aspek ekonomis melalui pengembanganjiwa kewirausahaan”




\
III. PEMBAHASAN

      Untuk menjawab permasalahan tersebut maka berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan :

1.    MENGEMBANGKAN JIWA KEWIRAUSAHAAN

Menumbuh kembangakan jiwa wira usaha di kalangan warga bangsa merupakan salah satu sokusi untuk menciftakan( bukan hanya meminta) dan mengembangkan kesempatan kerja .dengan kata lain upaya penanggulangan kemiskinan sengan peningkatan pendapatan melalui kerja, dan justru system inilah yang paling penting diupayakan , harapan pemerintah maupun masyarakat, terhadap lembga pendidikan khususnya  perguruan tinggi adalah mutu sumber daya yang dihasilkan akan berkwalitas  tinggi , sehingga output perguruan tinggi tersebut diharafkan dapat mandiri , bukan mencari kerja tetapi menciftakan lapangan kerja , dengan demikian diharafkan masyrakat perguruan tinggi dapat mengkaji dan menerapkan materi yang membawa mahasiswanya untuk bersifat inisiatif dan kreatif.

Pendidikan kewirausahaan sebagai suatu solusi untuk menjawab harafan pemerintah dan masyaarakat tersebut memang Tepat . bagi masyarakat perguruan tinggi , pendidikan ini relative masih baru walaupun sudah diperkenalkan sejak tahun 1970 an .

Pertanyaan yang selalu muncul adalah “bagaimana membentuk wirausaha yang baik” pertanyaan ini brawal dari berbagai pendapat “ apakah wirausaha ini dilahirkan atau dibentuk ?” , pada prinsipnya kewirausahaan merupakan kemampuan orang perorangan untuk memahami jenis barang dan jasa yang dibutuhkan orang lain serta menyampaikan pada saat yang  tep at.dengan demikian seringkali dikatakan bahwa wirausaha dikenal juga dengan orang yang mampu memanfaatkan peluang , apakah kemampuan tersebut dapat diajarkan , hal ini masih menjadi kontradisi dikalangan beberapa fakar . profesor YUYUNi WIRASASMITA mengemukakan bahwa perkembangan pembentukan wirausaha bermuara pada dua pendekatan , yaitu :





1.    .bersifat klasikal

Menjelaskan yaitu : bahwa kewirausahaan berhubungan dengan ciri-ciri pembawaan , seperti :self knowledge , imagination, practical knowledge , analytical ability, dan organization skill .
Pendekatan ini mengisyaratkan bahwa kewirausahaan itu pembawaan , sehingga tiddak akan mungkin untuk diajarkan , jadi wirausaha yang baik akan lahir dengan sendirinya .

2.    Pendekatan kedua bersifat adopsi
Menyatakan bahwa kewirausahaan dapat diadopsi dari factor-faktor lingkungan yang menghasilkan kewirausahaan . pendekatan ini dikenal juga dengan “event studies” aliran ini berpendapat bahwa sebagian dari sifat –sifat kwalitas pembawaan tersebut  dapat diajarkan , misalnya kemampuan analitik dan komputasi , sedangkan pengetahuan  praktis dan organisasi dapat diperoleh dari pengalaman. Jadi wirausaha yang baik dapat dibentuk . menurut aliran ini fungsi pendidikan kewirausahaan sebenarnya sebagai pembuka agar sifat-sifat pembawaan tadi dapat berkembang dan memperoleh ketrampilan yang diperlukan untuk mengembangkan usahanya. Aliran kedua ini semakin mendapat perhatian dan tanggapan dari masyarakat luas dan juga pemerintah terutama setelah menyimak fungsi dari wirausaha dalam masyarakat yaitu kemampuannya dapat menciftakan lapangan pekerjaan bagi dirinya sendiri dan bagi orang-orang lain , menghasilkan nilai tambah dalam perekonomian bahkan seringkali wirausaha berperan sebagai “ agent of development"sehingga merupakan factor yang mutlak harus ada dan berkembang apabila suatu Negara ingin maju

            Pada beberapa negaara maju di   Asia misalnya philipina pendidikan kewirausahaan telah memiliki pendidikan formal danlam  non formal . pada jenjang pendidikan formal telah dimasukkan dalam kurikulum sekolah lanjutan dan perguruan tinggi , sedangkan pada jenjang pendidikan non formal berupa pelatihan-pelatihan dan penataran serta kursus-kursus.
            Dalam hubungannya dengan penanggulangan kemiskinan peran pergururan tinggi terutama dalam me;laksanakan tri dharma perguruan tinggi tidak dapt diabaikan . hal ini apat dilakukan melalui pola desa binaan artinya perguruan tinggi negeri dan swasta dapat membina satu atau beberapa desa tertinggal secara berkesinambungan atau dikoordinasikan oleh instansi atau lembaga terkait  lainnya.dengan demikian I’tikad baik perguruan tingi hasilnya terlihat nyata.

2.LINGKUNGAN PERTUMBUHAN KEWIRAUSAHAAN

            Pada mulanya muncul anggapan bahwa kwalitas kewirausahaan sangat khas dan langka sehingga tidak gampang untuk menemukannya. Namun saat ini kenyataan menunjukkan bahwa kwalitas kewirausahaan dapat dikembangkan dalam diri seseorang , menurut profesor H.R. ARIFIN WIRAKUSUMAH pengembangan kwalitas kewirausahaan dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
1.Pengalaman hidup semasa kanak-kanak
            Pada masa ini anak-anak akan banyak meniru perubahan yang terjadi pada lingkungan sekitar , berlatih sendiri, percaya diri, mengambil keputusan dan bekerja keras sedini mungkin .
Beberapa penelitian yang mengkaji latar belakang keberhasilan wirausahawan mengungkapkan  bahwa kebiasaan anak untuk belajar dan bekerja keras pada usia dini sangat berperan dalam memunculkan kwalitas kewirausahaan pada anak yang bersangkutan
Tempaan usaha pada usia dini menempa anak muda terbiasa mengenal bidang usaha atau pekerjaan pada usia dini , sangat membantu mengembangkan kewirausahaan pada diri seorang anak.
Pelatihan kerajinan atau berdagang pada usia dini , orang tua yang mulai memberikan ketrampilan dibidang kerajinan tangan atau berdagang bagi anak sangat membantu terwujudnya usaha di kemudian hari.
2.Nilai-nilai budaya .
Meliputi :
a)    Persaingan ideal kewirausahawan tumbuh subur dalam iklim persaingan yang merangsang pihak-pihak untuk bersaing secara ideal dalam menemukan jalan untuk menggunakan dan mengelola sumber daya yang lebih produktif dan efisien , dari pada iklim persaingan yang merangsang pihak-pihak untuk bersaing secara ideal dalm menemukan jalan untuk menggunakan dan mengelola sumber daya yang lebih produktif dan efisien , dari pada iklim persaingan yang merangsang perdagangan curang ,s eperti perang harga , menurunkan mutu barang dan sebagainya .
b)    Orientasi waktu.wirausahawan merupakan orang yang sangat menghargai sikap mengorbankan keuntungan jangka pendek untuk memperoleh keuntungan jangka pendek untuk memperoleh keuntungan jangka panjang yang melimpah pada masa depan.
c)    Pandangan atas perdagangan
Sebagian besar wirausahawan yang sukses dewasa ini , memulai usahanya dengan cara berdagang , serta memandang usaha dagang dengan rasa bangga dan kegiatan di mulai.

d)    Pengukuran peringkat social lingkungan budaya yang menggalakkan kewirausahawan seperti : hongkong, singapura dll. Tidak memandang peringkat social berdasarkan kelahiran seperti system kastadi india namun merupakan budaya yang menilai peringkat social dalam ukuran pencapaian .seseorang yang mampu menjadi kaya akan dihormati, sekalipun terlahir dari keluarga miskin.
e)    Etika kerja budaya yang menunjang kewirausahawan adalah budaya yang memandang kerja sebagai suatu kewajiban serta mengharagi pekerjaan yang jujur , produktif dan menghukum kemalasan .
f)     Pandangan atas nilai uang.
Sikap suatu budaya yang lebih menghargai nilai  uang sebagai balas jasa dari suatu prestasi yang dihasilkan sangat merangsang tumbuhnya wirausahwan.
         
          Sejalan dengan itu , dampak positive kewirausahawan akan mempengaruhi perkembangan ekonomi dan social masyarakat, dengan demikian diharafkan pengembangan jiwa wirausaha dapat menjadi karakteristik pola fikir dan bertindak tersebut.
Adapun dampak positif wirausaha adalah :

1)    Menciftakan lapangan kerja jenis usaha apapun yang dikelola oleh sesorang wira usaha akan memanfaatkan sumber daya manusia manusia, dengan demikian terciftalah lapangan kerja.
2)    Menyempurnakan kwalitas  kehidupan untuk mengembangkan produksi barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat diperlukan inovasi yang akan melahirkan system dan cara produksi yang lebih epektif dan efisien ,sehingga tecifta kualitas kehidupan lebih baik.
3)    Memberi kontribusi pada pemerataan pendapatan yang dapat meredakan keresahan social umumnya keputusan mendirikan usaha , cendrung mendekati sumber daya yang dibutuhkan .
Dengan demikian akan terjadi penyebaran manfaat pembangunan ke daerah lain , yang pada gilirannya akan memeratakan pendapatan . adanya pemerataan pendapatan yang dinikmati oleh sebagian masyarakat miskin, menyebabkan keresahan social dapat diredakan.

4)    Sumber daya dapat digunakan dan dimobilisasikan untuk mencapai tingkat produktivitas nasional.kewirausahawan selalu menuntut penggunaan sumber daya secara ekonomis dan alternative penggunaannya yang optimal .
5)    Menciftakan kesejahteraan social melalui pemerintah, hasil pungutan pajak dan kewajban lain yang dipungut dari wirausahawan akan dialokasikan oleh pemerintah kepada berbagai proyek dan pelayanan lainnnya , dalam bentuk sarana infrastruktur ( jalan dan jembatan, pendidikan, kesehatan, pertahanan, dan keamanan dll) untuk dinikmati oleh masyarakat.

3.     KONSEP PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DILANDASI NILAI-NILAI    MORAL MUTLAK DIPERLUKAN

Kiranya topic ini tidak terasa aneh dari sudut pandang ekonomi, bahkan ia merupakan sesuatu yang sangat hakiki dari sudut manapun kita menyorotinya . berbicara mengenai pengembangan sumber daya manusia merupakan sesuatu yang kompleks karena menyangkut berbagai variable yang satu sama lainnya  saling terkait dan mendukung .
            Menurut  prof. sutrisno peneliti dan sosiolog mengungkapkan bahwa titik berat upaya pemerintah menjawab persoalan pengembangan sumber daya manusia adalah dengan meningkatkan pendidikan dan ketrampilan serta memperkuat mental ideologis manusia Indonesia namun belum akan dapat membuat bangsa ini mampu menghadapi permasalahan yang harus mereka hadapi, karena berubahnya dunia mereka , selanjutnya sutrisno memberikan gambaran sebagian manusia Indonesia saat ini umumnya memiliki “ budaya mediokritas” yaitu semacam budaya yang berorientasi pada kepuasan dari hasil yang berkwalitas kelas dua dan takut bersaing , sebagai contoh dapat dikemukakan disini adalah kebiasaan pengusaha Indonesia dengan pola “ hit and run” ingin cepat untung dengan cara tidak benar sebagai manifestasi budaya mediokritas tadi.
            Maka sudah saatnya warga bangsa ini memiliki budaya baru , yaitu budaya excellent atau keunggulan . dasar pengembangan sumber daya manusia indonesia memerlukan konsep yang jelas dan tegas yaitu pengembangan yang berorientasi pada fisik ( material ) dan mental (spiritual)
            Oleh karena itu diperlukan kesadaran akan kebenaran bahwa “ bekerja” ( dalam arti yang luas ) adalah” ibadah” dan setiap bekerja haruslah dengan pamrih , sehingga mendorong kita menjadi berinisiatif , kreatif dan memiliki motivasi tinggi pantang menyerah , yang dimaksudkan dengan mengharafkan pamrih disini adalah pamrih hanya kepada ALLAH sehingga dikenal dengan “ikhlas “dan menghasilkan “amal sholeh” dan justru hal inilah hakekatnya perniagaan yang tidak pernah merugi.
            Di akhir tulisan yang masih JAUH  dari sempurna ini ada baiknya kita renungkan ungkapan seorang cendikiawan dunia yaitu : GEORGE WELLINGTON yang mengatakan : educated man without religion , you make them clever but devils( orang terpelajar dan berpengalaman tinggi tanpa agama , mereka hanya akan menjadi syaetan yang cantik cerdik semata-mata )

IV. KESIMPULAN

       Dari uraian diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
Pertama upaya menanggulangi kemiskinan dapat dilakukan dengan menambah kembangkan jiwa kewirausahaan di kalangan masyarakat . wirausaha itu dapat dibentuk dan kewirausahaan merupakan pengetahuan yang dapat diajarkan kepada masyarakat .

Kedua perguruan tinggi selalu melaksanakan kegiatan TRI DHARMA PERGURUAN TINGGI diharafkan lebih berpean aktif dalam upaya menanggulangi kemiskinan dengan system dan pola yang tepat.


Referensi



1.    Koetjaraningrat , 1999 , kebudayaan, mentalitas dan pembangunan , PT Gramedia Pustaka Utama ,Jakarta.

2.    Sutrisno loekma  2002 , warta pedesaan , pusat penelitian pengembangan pedesaan dan kawasan, Yogyakarta.
3.    Sudomo,siswanto, 1999. Kewiraswastaan dalam bisnis eceran dalam management dan usahawan indonesia no 2 th, XVIII Februari , bagian publikasi lembaga management fakultas ekonomi universitas Indonesia –jakarta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar