KEWIRAUSAHAAN
SUATU SOLUSI MENANGGULANGI KEMISKINAN
ABSTRAK
Memperkuat kemampuan
penduduk miskin untuk meningkatkan kan taraf hidupnya dengan membuka kesempatan
berusaha dengan diarahkan pada
pengembangan kegiatan social ekonomi untuk mewujudkan kemandirian penduduk
miskin Pembangunan nasional bermuara pada manusia sebagai insan yang harus
dibangun kehidupannya dan sekaligus merupakan sumber daya pembangunan yang
harus terus ditingkatkan kwalitasnya dan kemampuannya untuk meningkatkan harkat
dan martabatnya . berbagai macam program guna menanggulangi kemiskinan telah
dilakukan oleh pemerintah , program tersebut adalah bertujuan untuk menumbuhkan
dan memperkuat kemampuan penduduk di desa/ kelurahan.
Sesungguhnya dampak yang diinginkan oleh pemrerintah
melalui berbagai program penanggulangan kemiskinan itu adalah penguatan
penduduk miskin yang bisa miskin umumnya tidak memilki pekerjaan tetap atau menganggur atau hasil kerja mereka tidak
memberikan pendapatan yang memadai , maka program-program pemerintah yang
bertujuan pada upaya ditempuh melalui empat jalur yaitu peningkatan kwalitas
sumber daya manusia, pengembangan peluang kerja dan berusaha , dan penguatan
kelembagaan kelompok penduduk miskin.mengingat bahwa penduduk peningakatan
penciftaan dan perluasan kesempaan kerja , dan dalam hal inilah peran
kewirausahaan tidak dapat diremehkan . namun demikian upaya menciftakan manusia
wirausaha , membutuhkan waktu relative lama dan pengalaman tertentu, karena hal
ini menyangkut sikap mental seseorang . jiwa kewirausahaan muncul disamping
pembawaan manusia sejak lahir , juga dapat dibentuk oleh factor-faktor
lingkungan dimana seseorang berada .
factor penting yang perlu diperhatikan adalah pengembangan jiwa kewirausahaan tersebut mutlak dilandasi
nilai-nilai moral dalam mengejar peningkatan kondisi social ekonomi masyarakat Indonesia.
I.PENDAHULUAN
Pemikiran
tentang pengembangan sumber daya manusia menjadi semakin serius , karena harus
diakui bahwa sumber daya manusia tersebut memiliki peran strategis dalam
pembangunan nasional khususnya dalam menyambut era industrialisasi yang umumnya
menerapkan teknologi tinggi. Dengan demikian muncul sinyalemen yang menyatakan
bahwa manusia bukan semata-mata sebagai obyek umum namun juga merupakan obyek
pembangunan . oleh karena itu diperlukan perhatian yang serius , konsisten,
berkesinambungan dan tulus ikhlas dari semua fihak sehingga misi yang memiliki
nilai strategis dalam republic ini dapat
diselesaikan dengan sukses .
Penduduk
republic Indonesia cukup besar sedangkan tingkat hidupnya masih relative rendah
. dilain fihak kekayaan sumber daya alam yang dimiliki menunjukkan potensi yang
menggembirakan untuk meningkatkan taraf hidup seluruh lapisan masyarakat .
Selanjutnya
payamah s simanjutak (2000) menyatakan bahwa penduduk Indonesia yang besar
mencerminkan :
1) Kebutuhan
masyarakat yang juga besar seperti kebutuhan sandang pangan , papan, energy ,
kesempatan kerja dan sebagainya.
2) Potensi
yang dapat dikembangkan untuk mengolah sumber-sumber alam yang tersedia untuk
kesejahteraan masyarakat.
Berkaitan dengan hal tersebut , maka diperlukan prinsip
–prinsip pendayagunaan tenaga kerja dan kemampuan manusia mengolah sumber daya
yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan manusia itu sendiri , hal ini searah
dengan tujuan pembangunan yaitu pembangunan manusia seutuhnya . pembangunan
manusia seutuhnya mencakup berbagai aspek antara lain termasuk pendidikan dan
latihan . pendayagunaan sumber daya manusia melalui kesempatan kerja sekaligus
perlindungan hak –hak dan jaminan hidupnya yang layak .
Di dalam
masyarakat yang maju , manusia senantiasa mempunyai kedudukan yang makin
penting meskipun kita berada atau sedang menuju kearah masyarakat yang
berorientasi kerja (work oriented) yang memandang kerja adalah sesuatu yang
mulia . kita tidaklah berarti mengabaikan aspek manusia yang melaksanakan
pekerjaan tersebut. Pandangan dan falsafah yang dimiliki masyarakat menunjukkan
hal tersebut dengan semakin kuatnya permintaan.
untuk memperhatikan aspek manusia dan bukan hanya aspek teknologi dan
ekonomi dalam setiap usaha. Dalam berbagai keadaan, niali-nilai manusiawi (
human values) dapat diselaraskan secara baik dengan aspek teknologi dan berarti
pula bahwa pengembangan sumber daya manusia Indonesia mengarah kepada hal –hal
yang positive . namun demikian berbagai masalah yang dihadapi berkaitan dengan
pemanfaatan potensi sumber daya manusia ini antara lain output perguruan
tinggi.
Sejalan
dengan itu pada stadium general mengenai pengelolaan keuangan Negara yang
akuntabel DI REKTORAT UNIVERSITAS
MATARAM rector universits mataram SUNARPI Pada bulan OKTOBER 2013 mengemukakan
bahwa secara nasional output sarjana yang dihasilkan perguruan tinggi negeri
maupun perguruan tinggi swasta mencapai lebih kurang sebesar 200 ribuan
prertahun sementara yang mampu diserap untuk memperoleh lapangan pekerjaan
adalah berkisar antara 20 persen sampai 30 persen pertahun , angka-angka
tersebut secara akumulatif akan terus bertambah setiap tahun. Gambaran keadaan
tersebut belum termasuk tingkat pendidikan SLTA , kebawah sehingga dalam kurun
waktu 15 tahun terakhir ini tingkat pengangguran dikalangan lulusan sekolah
lanjutan dan perguruan tinggi disinyalir menunjukkan peningkatan hampir 200
persen.
Besarnya
angka pertumbuhan pengangguran tersebut disebabkan ketidakmampuan sector pertanian,
perdagangan, jasa, pegawai negeri dan sebagian untuk menyerap tenaga kerja
baru. Bahkan ironisnya sector swasta umumnya mencari tenaga kerja baru dengan
persyaratan yang relative lebih ketat missalnya memiliki pengalaman kerja.
Berdasarkan
gambaran dari apa yang telah dipaparakn
di muka , kalau manusia Indonesia yang berpendidikan saja cukup sulit memperoleh pekerjaan maka
bagaimana halnya dengan manusia Indonesia lainnya yang memiliki tingkat
pendidikan dan ketrampilan yang rendah apalagi yang tidak pernah sama sekali
mengenyam pendididkan formal maupun non formal . akibat adanya kondisi demikian
itu maka terdapat gejala kemiskinan berkelanjutan ( dari sudut pandang ekonomi)
. pada hakekatnya kemiskinan itu muncul bukan bukan karena mereka berkeinginan
atau bercita-cita menjadi miskin karena “SUDAH BOSAN JADI ORANG KAYA” , namun
karena mereka tidak dapat atau sulit menghindarinya dengan kekuatan atau
kemampuan yang ada pada diri mereka sendiri, apabila kondisi kemiskinan warga
bangsa ini dilihat dari pola hubungan sebab-akibat , maka orang miskin adalah
mereka yang serba kurang mampu dan terbelit dalam lingkungan ketidak berdayaan.
Sejalan
dengan itu untuk meningkatkan kwalitas dan mengangkat harkat matabat penduduk
dari jurang dan lingkaran kemiskinan menurut profesor MUBYARTO diperlukan
kebijaksanaan, komitmen, organisasi dan program (bukan proyek) serta pendekatan
yang tepat . lebih dari itu dipeerlukan suatu sikap yang tidak memperlakukan
orang miskin hanya sebagai obyek tetapi sebagai subyek . pada prinsipnya
predikat orang miskin bukanlah orang yang tidak memiliki apapun , nmaun
hakekatnya orang miskin adalah orang punya sesuatu , terutama harga diri dan
percaya diri yang menutut kita oang beradan dengan segenap akal sehat dan
ketulusan ikhlas untuk mengembangkannya .
Adapun
nusa tenggara barat (NTB) berbaai masalah yang dihadapi diantaranya menyangkut
income perkapita masyarakat yang masih relative rendah dibandingkan rata-rata
nasional . laju pertumbuhan penduduk cukup tinggi dan penyebaran yang tidak
merata antara pulau Lombok dan pulau Sumbawa , sempitnya lapangan kerja diluar sector pertanian serta
rendahnya kwalitas sumber daya manusia .
Untuk
mengatasi masalah tersebut diperlukan waktu relative panjang , adanya
koordinasi dn keterpaduan antar sector maupun antar daerah .
II.PERMASALAHAN
DALAM UPAYA menanggulangi kemiskinan ,yang menjadi
permasalahannya adalah :
1.
Aspek kemiskinan apa yang dituju oleh suatu program penanggulangan
kemiskinan , missalnya aspek ekonomis , politis, mobilitas social , pelapisan
social . cultural, pendidikan dan sebagainya.
2.
Wahan apa yang dipergunakan untuk mencapai tujuan teersebut ?misalnya :
upaya perbaikan kondisi social warga miskin melalui peluang kerja , pendapatan,
kesehatan , self resfect atau untuk meningkatkan mobilitas social , misalnya
melalui pendididkan anak-anak mereka .
Dengan menemukan beberapa pertanyaan yang
spesifik tersebut diatas , program – program penaggulangan kemiskinan akan
menjadi lebih terarah,mengingat luasnya ruang lingkup pembahasan dalam
penanggulangan kemiskinan maka dalam tulisan ini diajukan solusi antara lain
“aspek ekonomis melalui pengembanganjiwa kewirausahaan”
\
III.
PEMBAHASAN
Untuk menjawab permasalahan
tersebut maka berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan :
1. MENGEMBANGKAN JIWA KEWIRAUSAHAAN
Menumbuh kembangakan jiwa
wira usaha di kalangan warga bangsa merupakan salah satu sokusi untuk
menciftakan( bukan hanya meminta) dan mengembangkan kesempatan kerja .dengan
kata lain upaya penanggulangan kemiskinan sengan peningkatan pendapatan melalui
kerja, dan justru system inilah yang paling penting diupayakan , harapan
pemerintah maupun masyarakat, terhadap lembga pendidikan khususnya perguruan tinggi adalah mutu sumber daya yang
dihasilkan akan berkwalitas tinggi ,
sehingga output perguruan tinggi tersebut diharafkan dapat mandiri , bukan
mencari kerja tetapi menciftakan lapangan kerja , dengan demikian diharafkan
masyrakat perguruan tinggi dapat mengkaji dan menerapkan materi yang membawa
mahasiswanya untuk bersifat inisiatif dan kreatif.
Pendidikan kewirausahaan
sebagai suatu solusi untuk menjawab harafan pemerintah dan masyaarakat tersebut
memang Tepat . bagi masyarakat perguruan tinggi , pendidikan ini relative masih
baru walaupun sudah diperkenalkan sejak tahun 1970 an .
Pertanyaan yang selalu
muncul adalah “bagaimana membentuk wirausaha yang baik” pertanyaan ini brawal
dari berbagai pendapat “ apakah wirausaha ini dilahirkan atau dibentuk ?” ,
pada prinsipnya kewirausahaan merupakan kemampuan orang perorangan untuk
memahami jenis barang dan jasa yang dibutuhkan orang lain serta menyampaikan
pada saat yang tep at.dengan demikian
seringkali dikatakan bahwa wirausaha dikenal juga dengan orang yang mampu
memanfaatkan peluang , apakah kemampuan tersebut dapat diajarkan , hal ini
masih menjadi kontradisi dikalangan beberapa fakar . profesor YUYUNi
WIRASASMITA mengemukakan bahwa perkembangan pembentukan wirausaha bermuara pada
dua pendekatan , yaitu :
1. .bersifat
klasikal
Menjelaskan yaitu : bahwa kewirausahaan
berhubungan dengan ciri-ciri pembawaan , seperti :self knowledge , imagination,
practical knowledge , analytical ability, dan organization skill .
Pendekatan ini mengisyaratkan bahwa
kewirausahaan itu pembawaan , sehingga tiddak akan mungkin untuk diajarkan ,
jadi wirausaha yang baik akan lahir dengan sendirinya .
2. Pendekatan
kedua bersifat adopsi
Menyatakan
bahwa kewirausahaan dapat diadopsi dari factor-faktor lingkungan yang
menghasilkan kewirausahaan . pendekatan ini dikenal juga dengan “event studies”
aliran ini berpendapat bahwa sebagian dari sifat –sifat kwalitas pembawaan
tersebut dapat diajarkan , misalnya
kemampuan analitik dan komputasi , sedangkan pengetahuan praktis dan organisasi dapat diperoleh dari
pengalaman. Jadi wirausaha yang baik dapat dibentuk . menurut aliran ini fungsi
pendidikan kewirausahaan sebenarnya sebagai pembuka agar sifat-sifat pembawaan
tadi dapat berkembang dan memperoleh ketrampilan yang diperlukan untuk
mengembangkan usahanya. Aliran kedua ini semakin mendapat perhatian dan
tanggapan dari masyarakat luas dan juga pemerintah terutama setelah menyimak
fungsi dari wirausaha dalam masyarakat yaitu kemampuannya dapat menciftakan
lapangan pekerjaan bagi dirinya sendiri dan bagi orang-orang lain ,
menghasilkan nilai tambah dalam perekonomian bahkan seringkali wirausaha
berperan sebagai “ agent of development"sehingga merupakan factor yang
mutlak harus ada dan berkembang apabila suatu Negara ingin maju
Pada beberapa negaara maju di Asia misalnya philipina pendidikan kewirausahaan telah memiliki
pendidikan formal danlam non formal .
pada jenjang pendidikan formal telah dimasukkan dalam kurikulum sekolah
lanjutan dan perguruan tinggi , sedangkan pada jenjang pendidikan non formal
berupa pelatihan-pelatihan dan penataran serta kursus-kursus.
Dalam hubungannya dengan penanggulangan kemiskinan peran
pergururan tinggi terutama dalam me;laksanakan tri dharma perguruan tinggi
tidak dapt diabaikan . hal ini apat dilakukan melalui pola desa binaan artinya
perguruan tinggi negeri dan swasta dapat membina satu atau beberapa desa
tertinggal secara berkesinambungan atau dikoordinasikan oleh instansi atau
lembaga terkait lainnya.dengan demikian
I’tikad baik perguruan tingi hasilnya terlihat nyata.
2.LINGKUNGAN
PERTUMBUHAN KEWIRAUSAHAAN
Pada mulanya muncul anggapan bahwa kwalitas kewirausahaan
sangat khas dan langka sehingga tidak gampang untuk menemukannya. Namun saat
ini kenyataan menunjukkan bahwa kwalitas kewirausahaan dapat dikembangkan dalam
diri seseorang , menurut profesor H.R. ARIFIN WIRAKUSUMAH pengembangan kwalitas
kewirausahaan dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
1.Pengalaman hidup semasa
kanak-kanak
Pada masa ini anak-anak akan banyak meniru perubahan yang
terjadi pada lingkungan sekitar , berlatih sendiri, percaya diri, mengambil
keputusan dan bekerja keras sedini mungkin .
Beberapa penelitian yang
mengkaji latar belakang keberhasilan wirausahawan mengungkapkan bahwa kebiasaan anak untuk belajar dan
bekerja keras pada usia dini sangat berperan dalam memunculkan kwalitas
kewirausahaan pada anak yang bersangkutan
Tempaan usaha pada usia dini
menempa anak muda terbiasa mengenal bidang usaha atau pekerjaan pada usia dini
, sangat membantu mengembangkan kewirausahaan pada diri seorang anak.
Pelatihan kerajinan atau
berdagang pada usia dini , orang tua yang mulai memberikan ketrampilan dibidang
kerajinan tangan atau berdagang bagi anak sangat membantu terwujudnya usaha di
kemudian hari.
2.Nilai-nilai budaya .
Meliputi :
a)
Persaingan ideal kewirausahawan tumbuh subur
dalam iklim persaingan yang merangsang pihak-pihak untuk bersaing secara ideal
dalam menemukan jalan untuk menggunakan dan mengelola sumber daya yang lebih
produktif dan efisien , dari pada iklim persaingan yang merangsang pihak-pihak
untuk bersaing secara ideal dalm menemukan jalan untuk menggunakan dan
mengelola sumber daya yang lebih produktif dan efisien , dari pada iklim
persaingan yang merangsang perdagangan curang ,s eperti perang harga ,
menurunkan mutu barang dan sebagainya .
b)
Orientasi waktu.wirausahawan merupakan orang
yang sangat menghargai sikap mengorbankan keuntungan jangka pendek untuk
memperoleh keuntungan jangka pendek untuk memperoleh keuntungan jangka panjang
yang melimpah pada masa depan.
c)
Pandangan atas perdagangan
Sebagian
besar wirausahawan yang sukses dewasa ini , memulai usahanya dengan cara
berdagang , serta memandang usaha dagang dengan rasa bangga dan kegiatan di
mulai.
d)
Pengukuran peringkat social lingkungan budaya
yang menggalakkan kewirausahawan seperti : hongkong, singapura dll. Tidak
memandang peringkat social berdasarkan kelahiran seperti system kastadi india
namun merupakan budaya yang menilai peringkat social dalam ukuran pencapaian
.seseorang yang mampu menjadi kaya akan dihormati, sekalipun terlahir dari
keluarga miskin.
e)
Etika kerja budaya yang menunjang
kewirausahawan adalah budaya yang memandang kerja sebagai suatu kewajiban serta
mengharagi pekerjaan yang jujur , produktif dan menghukum kemalasan .
f)
Pandangan atas nilai uang.
Sikap
suatu budaya yang lebih menghargai nilai
uang sebagai balas jasa dari suatu prestasi yang dihasilkan sangat
merangsang tumbuhnya wirausahwan.
Sejalan
dengan itu , dampak positive kewirausahawan akan mempengaruhi perkembangan
ekonomi dan social masyarakat, dengan demikian diharafkan pengembangan jiwa
wirausaha dapat menjadi karakteristik pola fikir dan bertindak tersebut.
Adapun dampak positif wirausaha adalah :
1) Menciftakan
lapangan kerja jenis usaha apapun yang dikelola oleh sesorang wira usaha akan
memanfaatkan sumber daya manusia manusia, dengan demikian terciftalah lapangan
kerja.
2) Menyempurnakan
kwalitas kehidupan untuk mengembangkan
produksi barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat diperlukan inovasi
yang akan melahirkan system dan cara produksi yang lebih epektif dan efisien
,sehingga tecifta kualitas kehidupan lebih baik.
3) Memberi
kontribusi pada pemerataan pendapatan yang dapat meredakan keresahan social
umumnya keputusan mendirikan usaha , cendrung mendekati sumber daya yang
dibutuhkan .
Dengan demikian akan terjadi penyebaran manfaat
pembangunan ke daerah lain , yang pada gilirannya akan memeratakan pendapatan .
adanya pemerataan pendapatan yang dinikmati oleh sebagian masyarakat miskin,
menyebabkan keresahan social dapat diredakan.
4) Sumber
daya dapat digunakan dan dimobilisasikan untuk mencapai tingkat produktivitas
nasional.kewirausahawan selalu menuntut penggunaan sumber daya secara ekonomis
dan alternative penggunaannya yang optimal .
5)
Menciftakan kesejahteraan social melalui
pemerintah, hasil pungutan pajak dan kewajban lain yang dipungut dari
wirausahawan akan dialokasikan oleh pemerintah kepada berbagai proyek dan
pelayanan lainnnya , dalam bentuk sarana infrastruktur ( jalan dan jembatan,
pendidikan, kesehatan, pertahanan, dan keamanan dll) untuk dinikmati oleh
masyarakat.
3.
KONSEP
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DILANDASI NILAI-NILAI MORAL MUTLAK DIPERLUKAN
Kiranya
topic ini tidak terasa aneh dari sudut pandang ekonomi, bahkan ia merupakan
sesuatu yang sangat hakiki dari sudut manapun kita menyorotinya . berbicara
mengenai pengembangan sumber daya manusia merupakan sesuatu yang kompleks
karena menyangkut berbagai variable yang satu sama lainnya saling terkait dan mendukung .
Menurut prof. sutrisno peneliti dan sosiolog
mengungkapkan bahwa titik berat upaya pemerintah menjawab persoalan
pengembangan sumber daya manusia adalah dengan meningkatkan pendidikan dan
ketrampilan serta memperkuat mental ideologis manusia Indonesia namun belum
akan dapat membuat bangsa ini mampu menghadapi permasalahan yang harus mereka
hadapi, karena berubahnya dunia mereka , selanjutnya sutrisno memberikan
gambaran sebagian manusia Indonesia saat ini umumnya memiliki “ budaya
mediokritas” yaitu semacam budaya yang berorientasi pada kepuasan dari hasil
yang berkwalitas kelas dua dan takut bersaing , sebagai contoh dapat
dikemukakan disini adalah kebiasaan pengusaha Indonesia dengan pola “ hit and
run” ingin cepat untung dengan cara tidak benar sebagai manifestasi budaya
mediokritas tadi.
Maka sudah saatnya warga bangsa ini
memiliki budaya baru , yaitu budaya excellent atau keunggulan . dasar
pengembangan sumber daya manusia indonesia memerlukan konsep yang jelas dan
tegas yaitu pengembangan yang berorientasi pada fisik ( material ) dan mental
(spiritual)
Oleh karena itu diperlukan kesadaran
akan kebenaran bahwa “ bekerja” ( dalam arti yang luas ) adalah” ibadah” dan
setiap bekerja haruslah dengan pamrih , sehingga mendorong kita menjadi
berinisiatif , kreatif dan memiliki motivasi tinggi pantang menyerah , yang
dimaksudkan dengan mengharafkan pamrih disini adalah pamrih hanya kepada ALLAH
sehingga dikenal dengan “ikhlas “dan menghasilkan “amal sholeh” dan justru hal
inilah hakekatnya perniagaan yang tidak pernah merugi.
Di akhir tulisan yang masih
JAUH dari sempurna ini ada baiknya kita
renungkan ungkapan seorang cendikiawan dunia yaitu : GEORGE WELLINGTON yang
mengatakan : educated man without religion , you make them clever but devils( orang
terpelajar dan berpengalaman tinggi tanpa agama , mereka hanya akan menjadi
syaetan yang cantik cerdik semata-mata )
IV.
KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat
ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
Pertama
upaya menanggulangi kemiskinan dapat dilakukan dengan menambah kembangkan jiwa
kewirausahaan di kalangan masyarakat . wirausaha itu dapat dibentuk dan
kewirausahaan merupakan pengetahuan yang dapat diajarkan kepada masyarakat .
Kedua
perguruan
tinggi selalu melaksanakan kegiatan TRI DHARMA PERGURUAN TINGGI diharafkan
lebih berpean aktif dalam upaya menanggulangi kemiskinan dengan system dan pola
yang tepat.
Referensi
1. Koetjaraningrat
, 1999 , kebudayaan, mentalitas dan pembangunan , PT Gramedia Pustaka Utama
,Jakarta.
2. Sutrisno
loekma 2002 , warta pedesaan , pusat
penelitian pengembangan pedesaan dan kawasan, Yogyakarta.
3. Sudomo,siswanto,
1999. Kewiraswastaan dalam bisnis eceran dalam management dan usahawan
indonesia no 2 th, XVIII Februari , bagian publikasi lembaga management
fakultas ekonomi universitas Indonesia –jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar