Jumat, 13 Juni 2014



ANATOMI SISTEM SOSIAL
Rekonstruksi Normalitas relasi social dengan menggunakan pendekatan system
BAB I
REORIENTASI ILMU-ILMU KEMANUSIAAN
A.TANTANGAN-TANTANGAN ILMU SOSIAL
Pandangan yang telah lama muncul terhadap keberadaan ilmu social adalah secara metodologis ilmu-ilmu social tidak bisa melepaskan dirinya dari bayang-bayang positivistic ilmu-ilmu alam, pencapaian nyata ilmu-ilmu alam yang sangat fantastis dan luar biasa dalam menghasilkan teknologi bagi kemudahan umat manusia , sedangkan ilmu-ilmu social masih sibuk menjawab dakwaan yang ditujukan kepadanya sebagai disiplin yang lamban dan belum bisa membuat lompatan-lompatan yang berarti secara ilmiah. 
Banyak hal yang harus dikaji ulang dalam kontruksi ilmu-ilmu social yang ada sekarang , setidaknya upaya ini akan menghadapi tiga tantangan ,yaitu:
1.       Identifikasi dan deskripsi fenomena dari data yang dikaji.
2.       Rumusan model teoritik ( general theoretical model ) untuk menjelaskan fenomena yang telah dideskripsikan.
3.       Criteria justifikasi atau validasi dari hasil-hasil kajian.

                Deskripsi data bisa berbentuk klasifikasi fenomena-fenomena yang masing-masing memiliki  relevansi dengan hypothetical construct tertentu dari teori atau sub teori yang digunakan dan sering juga berbentuk generalisasi-generalisasi yang dibuat secara induktif dari berbagai data yang diamati. Model teoritik adalah abstract formalized system yang komponen-komponennya seperti semua sub teori, proposisi (theoretical statements), konsep( theoretical concepts) dan lain-lain dinyatakan secara eksplisit , model teoritik digunakan untuk menjelaskan atau membuat turunan dari generalisasi-generalisasi yang telah dilakukan melalui kegiatan deskripsi.

                Ketiga hal diatas bila diikuti tidak mudah dilakukan dalam ilmu-ilmu social kemanusiaan ( behavioral sciences ) problem yang sering dikemukakan adalah berkaitan dengan perbedaan mendasar antara kajian-kajian ilmu kemanusiaan dengan ilmu-ilmu eksakta , terutama yang berkaitan dengan hakekat data dari masing-masing bidang.

                Berdasarkan gambaran diatas para ilmuwan social agaknya dihadapkan pada dua pilihan yang sulit yaitu: petama, membiarkan ilmu-ilmu social berjalan sebagaimana yang ada sekarang ini,kedua, secara kreatif mencoba mengikuti model pendekatan pengkajian ala Galilean style seperti yang selama ini dipraktekkan dengan sangat berhasil dalam ilmu-ilmu eksakta.
Bila dicermati kembali apa yang terjadi dalam ilmu-ilmu eksakta , setidaknya kita mencatat setidak-tidaknya tiga hal krusial :
1.       Adanya data yang relative sederhana dan homogen
2.       Adanya model teoritik dengan struktur tertentu yang ditawarkan
3.       Karena 1) Dan 2) terdapat kemajuan ilmiah yang sangat pesat , sebaliknya dalam ilmu-ilmu social karena 1) dan 2) tidak dimiliki maka kondisi seperti pada 3) tidak atau belum terjadi . ini berarti  secara rasional bila problem yang berkaitan dengan 1) bisa diatasi atau direkonseptualisasi , maka bentuk awal dari 2)bisa dikonstruksi sehingga suatu saat nanti, bila model teoritiknya telah mengalami penyempaurnaan setelah mendapatkan pengujian-pengujian empiric yang memadai , kita berharap 3) akan menjadi kenyataan dalam ilmu-ilmu kemanusiaan.

                Problem sesungguhnya yang dihadapi dalam ilmu-ilmu social bukan berkaitan dengan data atau perilaku manusia yang sering tidak bisa ditebak akan tetapi berkaitan dengan cara berfikir ilmuwan di bidang ini . dalam bidang ini sebagaimana juga dalam ilmu-ilmu social banyak data atau fenomena yang perilakunya unexpected –jadi tidak sehomogen dan seteratur seperti anggapan selama ini. Tapi berbeda dengan para ilmuwan social , para ilmuwan eksakta menyikapi data yang tidak beraturan itu dengan cara yang berbeda , pertama mereka membuat asumsi bahwa alam memiliki :1) pola-pola perilaku yang alami,sederhana dan teratur dan perilaku seperti ini tidak memerlukan banyak penjelasan ilmiah tertentu karena sudah dianggap self-explanatory 2). Pola-pola perilaku yang tidak alami yang  tidak diharafkan memerlukan hukum-hukum (laws) ilmiah untuk menjelaskannya.
                Menurut TOULMIN teori setidak-tidaknya memiliki tiga komponen dengan hirarki struktur sebagai berikut :

1)      Ideals of natural order.
2)      Laws
3)      Hypotheses

Point 1),2) dan 3) bersifat hirarkis . point 1) berkaitan dengan konsep normal order , tatanan obyek sebagaimana mustinya ,dan 2)dan 3) berkaitan dengan devian order .
Salah satu contoh the ideals of order yang diberikan toulmin berkaitan dengan hukum pertama newton , hukum inertia dimana obyek diklaim memiliki perilaku yang  terbebas dari pengalaman sehari-hari , kita tidak akan jumpai sebuah Benda yang berprilaku sesuai dengan pola ideal ini dan selalu saja terdapat deviasi , besar atau kecil dari perilaku ideal itu , berdasarkan kenyataan ini maka kemudian dibuatlah hukum (laws) misalnya hukum gravitasi untuk menjelaskan alasan-alasan kenapa terjadi deviasi tersebut.

                  Bila langkah ini yang dilakukan dalam ilmu-ilmu social maka dalam domain kajian masing-masing , para ilmuwan social akan dengan mudah mengidentifikasi secara empiris fenomena-fenomena mana yang memilki pola perilaku yang sehat dan alami , dan mana yang tidak alami , yaitu yang telah mengalami proses deviasi-deviasi tertentu.
Dari gambaran diatas dapat ditegaskan bahwa perbedaan antara ilmu –ilmu social dengan ilmu-ilmu eksakta selama ini bukan terletak pada isu yang berkaitan dengan data tetapi berkaitan dengan perbedaan  cara berfikir tentang bagaimana membangun struktur teori ilmiah . para ilmuwan eksakta mencoba menerangkan data-datanya dengan membangun model teoritik umum yang koheren sedangkan para ilmuwan social membuat teori untuk menjelaskan secara ad.hoc. data atau fenomena yang sedang diamati secara langsung .

B. MENUJU ILMU-ILMU SOSIAL TRANSFORMATIF.

                Model teoritik yang berterima secara ilmiah adalah model yang mampu memberikan prediksi secara akurat kenapa terjadi keragaman perilaku manusia yang ada sekarang ini, ini analog dengan teori tentang “ solar system” dimana data primernya yaitu matahari sendiri, tidak aksesibel langsung oleh para peneliti .

Sebagaimana kita ketahui kegiatan ilmiah berkaitan dengan dunia apa adanya (is) bukan dengan dunia sebagaimana seharusnya (ought to ) kebenaran-kebenaran ilmiah sebagaimana difahami selama ini , berhubungan dengan adanya korespondensi antara pernyataan ilmiah dengan dunia realistis sebagaimana adanya itu. Pernyataan –pernyataan ilmiah selalu berbentuk deskripsi tentang dunia realistis. Menurut David Home , tidak ada suatu konklusi yang sahih dalam bentuk pernyataan yang berkaitan dengan” ought to” yang bisa ditarik dari sejumlah premis betapapun lengkapnya yang terdiri dari pernyataan yang bersifat deskriptif.

                Menurut Monod , ilmu pengetahuan dan nilai-nilai moral tidak bisa dipisahkan,keduanya selalu berkait dan berada bersama dalam semua tindakan manusia . setiap tindakan terkait dengan pilihan-pilihan nilai tertentu, baik maupun buruk, dan pengetahuan selalu berada dibalik setiap tindakan. Akan tetapi pengetahuan yang benar yaitu pengetahuan ilmiah dengan prinsip obyektivitas yang ada didalamnya, tidak boleh melibatkan value judgment tertentu apapun karena value judgment yang dianggap non obyektif bertentangan dengan prinsip obyektifitas,value judgment tidak bisa berada satu atap didalam ranah ilmu pengetahuan dan sejak itu moralitas tidak bisa menjadi bagian darinya.
Menurut Monod mengkaitkan hubungan logis antara ilmu pengetahuan dan etika , hubungan logis yang menghubungkan pengetahuan dengan nilai tidaklah bersifat obiyektif.pengetahuan yang benar , sekalipun bebas nilai , pada analisa terakhir , haruslah berangkat dari, atau berdasarkan pada postulat yang bersifat moral, yaitu sebuah nilai yang bersifat aksiomatik . menerima prinsif obyektifitas sebagai kondisi (syarat )untuk mendapatkan pengetahuan yang benar adalah apriori berkaitan dengan pilihan yang bersifat etis dan bukanlah pilihan yang berkaitan dengan , atau berdasarkan pada, pengetahuan . jadi untuk membangun norma bagi pengetahuan yang benar, prinsip obyektivitas mengandaikan sebuah nilai , dan nilai itu adalah pengetahuan obyektif itu sendiri.

                Bila kita melihat sebagaimana pengalaman kita sehari-hari , bahwa value judgment dan pengetahuan selalu bersama-sama berada dalam suatu tindakan atau diskursus manusia ,dan bila kita melihat sebagai fakta , maka kegiatan professional ilmiah sebagai salah satu bentuk tindakan atau diskursus manusia akan secara transitif berarti tidak mungkin tidak ada value judgment di dalamnya.
Sebagaimana dijelaskan di muka, model teoritik umum ilmu-ilmu kemanusiaan memilki komponen yang secara hirarkis tertinggi, yaitu model normative dari the ideal of social ordering berfungsi sebagai norma atau ukuran penilaian tentang normalitas pola perilaku empiric sosiologis , dan berdasarkan deskripsi data empiris ini , deviasi yang terjadi berdasarkan frame normative bisa diidentifikasi dan dijelaskan.
                Keuntungan kedua bersifat praksis, karena cara pengembangan model teoritik yang ditawarkan disini bersifat second order , bukan first order seperti yang didapatkan dalam ilmu-ilmu eksakta maka secara praksis arahan teoritik tentang apa yang bisa diperbuat setelah  proses diagnosistik dilakukan menjadi sangat eksplisit ,sebab kegiatan empiric yang dilakukan justru dalam rangka identifikasi, penjelasan dan penilaian terhadap deviasi-deviasi yang telah terjadi relative dibandingkan dengan ukuran normal yang ada dalam model teoritik.
Di atas telah dipaparkan strategi yang harus dilakukan dalam rangka membangun model teoritik umum yang encompassing dalam ilmu-ilmu kemanusiaan .juga telah dipaparkan alasan-alasan serta keuntungan-keuntungan yang didapatkan bila strategi ini digunakan .

   

1 komentar: